Catatan Menakjubkan dari Peserta Aksi Damai 4 November 2016

Posted: 11/07/2016 in Catatan Kecil, Informasi

Aksi DCatatan catatan ini menurut saya pribadi perlu dipublikasikan biar publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga informasi aksi damai ini tidak bias,  dengan adanya catatan catatan ini bisa mengimbangi apa yang terjadi saat aksi damai tersebut, karena informasi dari peserta yang terjun langsung dilapangan tentunya bisa lebih akurat.  Berikut beberapa catatan peserta Aksi Damai 4 November 2016 yang diperoleh dari medsos yang beredar, selamat menyimak.

*CATATAN DARI GARIS DEPAN, BUKAN PENGAMATAN*

Catatan menarik dari kawan saya Fajar Shodiq di grup alumni _”Dzunnuroin”_.

Afwan, _ini sekedar share pengalaman ana pribadi tentang ukhuwwah islamiyyah kemarin sore, terlepas apakah teman2 dzun sepakat dengan aksi kemarin._

Saya bingung memulainya, jadi ceritanya ga runut, seadanya…

Dari awal aksi selepas sholat juma’at, longmarch terasa berada di pusaran kisah sejarah perjuangan pada masa awal-awal Islam. _Massa tumpah ruah di jalan, tapi jangan bayangkan aksi dorong-mendorong, yang ada sikap saling melindungi satu sama lain. Perempuan diberikan jalan lebih dahulu, ayah yang menggendong anaknya pun diperlakukan demikian_. Beberapa laskar menjaga persimpangan jalan yang berpotensi tabrakan antar massa. Juga melindungi penjaja makanan kaki lima dari kepadatan arus massa.

_Jangan bayangkan haus dan lapar, di sepanjang jalan berdiri relawan yang menawarkan minuman dan makanan. Bahkan sesama peserta aksi saling menawarkan minum dan makan, saling mengenalkan diri dan daerah asalnya_.

_Masuk waktu ashar, lautan massa mulai memenuhi area sholat yg disediakan. Antrian toilet, antrian wudhu, semua sangat teratur. Ingat lho, jumlah massa sudah ratusan ribu bahkan juta orang, bisa tertib dan teratur_.

Suplai makanan dan minuman tidak berhenti. Relawan begitu bersemangat menyediakan logistik untuk peserta aksi selepas sholat ashar. Hanya saja, ketika konsentrasi massa sudah berkumpul di depan istana, suplai logistik terhambat karena tidak ada lagi jalan untuk distribusi. Massa begitu padat namun tertib duduk atau berdiri mendengarkan orasi dari mobil komando. Dengan begitu, peserta aksi hanya memiliki persediaan air atau makanan yang hanya ada ditangan mereka sendiri.

_Justru dalam keterbatasan persediaan air itulah saya melihat bagaimana seorang muslim memperlakukan saudaranya yang lain. Bagi yang memiliki persediaan air, selalu berusaha menawarkan ke orang-orang sekitarnya sebelum dia minum. Itupun tidak mudah menawarkan, karena yang ditawarkan hanya mengangguk lalu menolak dengan halus agar pemilik air menawarkan airnya ke orang lain dulu_.

Memasuki waktu maghrib, beberapa peserta aksi mulai haus sementara jalan keluar untuk mencari air sudah tidak bisa lagi. Kebetulan saya memiliki dua botol air mineral. Saya mencoba menawarkan kembali, _Alhamdulillah beberapa orang mau meminum. Apa yang terjadi? Peserta hanya minum satu atau dua tenggak saja sehingga beberapa orang hanya menghabiskan setengah botol saja.

Memasuki waktu Isya, polisi mulai menembakan gas air mata ke tengah massa. Banyak peserta yang matanya perih,  termasuk saya, bahkan ada yang muntah. Saya mencoba menyiram air ke mata saya sendiri. Lalu mengoleskan odol ke mata agar menetralisir efek gas air mata.

“Air…air…air…” banyak peserta yang berteriak meminta pertolongan. Beberapa orang yang masih memiliki sisa persediaan air berlomba berikan pertolongan. Dengan sekuat tenaga saya mencoba menggunakan sisa air di tas untuk menolong. Tahu apa yang terjadi? Satu setengah botol air saya bisa menolong banyak orang, karena peserta yang terkena efek gas air mata hanya menggunakan air sedikit mungkin untuk dirinya, lalu memberikan ke peserta aksi yang lain. Yang mual hanya minum satu teguk, lalu memberikan ke orang lain.

Bahkan ada peserta yang memiliki persediaan air membasahi sorbannya agar bisa lebih banyak menolong dengan cara mengelap mata korban dengan sorban yang basah tadi.

Bukan hanya itu, ketika hujan gas air mata semakin banyak dan mata makin perih, dan ketika odol sudah habis, banyak peserta aksi yang sudah mengoleskan odol di sekitar matanya, tiba-tiba mengelap odol dari wajahnya agar bisa dioleskan ke wajah orang lain_.

Demi Allah, saya menyaksikan betapa kaum muslimin saling melindungi saudaranya dari hujan gas air mata. Beberapa lelaki membuat lingkaran kecil untuk menjadi tameng bagi peserta aksi perempuan.

Beberapa orang kemudian berlari mengejar peluru gas air mata yang datang, menginjak-injaknya agar tidak mengeluarkan gas lebih banyak. Tidak hanya itu, jika dari udara terlihat gas air mata yang akan jatuh ke massa, para peserta aksi saling menarik saudaranya agar terhindar, bukan berlari menyelamatkan diri sendiri padahal dalam kondisi yang gawat.

Persediaan air habis, beberapa orang mencoba mengais botol-botol kosong yang berserakan di jalan sambil berharap siapa tahu masih ada setes air yang bisa digunakan untuk menetralisir gas di mata atau mual di mulut.

Saya tidak kuat lagi menceritakan cerita-cerita mengagumkan selanjutnya. Karena masih banyak cerita yang lahir, bahkan hingga aksi dipindahkan ke gedung DPR dan bubar di waktu shubuh.

Saya jadi teringat pelajaran di sekolah tentang kisah heroik muslimin dalam peperangan di awal-awal sejarah Islam. Dimana di suatu peperangan, ketika ada prajurit terluka yang sedang ditolong dengan diberikan air, prajurit itu meminta agar air diberikan ke prajurit lain yang lebih membutuhkan. Ketika air ingin diberikan ke prajurit kedua, sang prajurit pun meminta agar air diberikan ke prajurit yang lebih sekarat, hingga akhirnya para prajurit itu satu per satu meninggal demi mengutamakan saudaranya yang lain_.

Dalam aksi ini tidak ada sekat, tidak saling mengenal, tidak mementingkan diri sendiri, tapi saling melindungi_.

Alhamdulillah saya mendapatkan pengalaman betapa murninya persaudaraan dalam aksi 4 Nov kemarin. Allah menyatukan hati kami semua_.

Sekali lagi saya minta maaf jika sebagian teman-teman Dzunnuroin menganggap aksi ini tidak patut, tetapi beberapa kali saya ikut aksi sejak mahasiswa dulu, buat saya _ini aksi “people power” yang bener-bener murni “rasanya”, hanya Allah yang memberikan “rasa” itu sehingga para peserta aksi menghayati “rasa” yang menggetarkan kalbu untuk berkumpul dan  membela kalam-Nya_ (sekali lagi, walaupun teman-teman Dzun belum tentu sepakat ini penistaan).

Coba tanya para aktivis berpengalaman, apakah mudah mengumpulkan “people power” yang sukarela, dari segala penjuru nusantara, dengan biaya sendiri, dalam waktu singat, bahkan menyiapkan kain kafan, hanya karena durasi video penistaan yang beberapa detik saja?_

Hanya Allah yang menggerakan ini, tidak ada issue yang lebih menggema kecuali membela Alquran_.

Sekali lagi, jika aksi ini adalah tingkah laku yang konyol, maafkan kami yang telah melakukan aksi 4 Nov ini.

Asta’fikum…

CATATAN KEDUA

Mata saya berkaca kaca ketika membaca postingan Randy Bagasyuda.

Inilah yang sedari awal saya sebut aksi damai 4 november adalah Reuni Akbar Umat Islam.

Saya juga melihat di balik banyaknya provokator, presiden Jokowi-lah provokator utamanya sebelum munculnya kericuhan.

Berikut ini kisah Randy dalam aksi damai bela islam:

Indahnya Islam, pengalaman terindah dalam hidup….

4 Nopember 2016, Segala puji bagi Allah yang maha pengasih lagi Maha penyayang…apa yang saya tuliskan disini adalah apa yang saya alami dan rasakan ketika saya menjadi bagian massa di sebelah timur istana dan analisis saya dengan ilmu dan pengalaman saya sebagai mantan aktivis UI.

Kondisi Massa,

Berkali-kali saya tak kuasa menahan air mata yang jatuh tanpa bisa dibendung ketika ruh ini merasakan rahmat dan kasih sayang yang Allah berikan ke dalam hati-hati kami. Kami tidak saling mengenal (saya pun berangkat sendiri tanpa seorang teman) tapi seolah kami sudah saling mengenal lama satu dengan yang lainnya. Saling sapa, salam, berbagi minuman dan makanan yang dibawa untuk bekal, memegangi air untuk berwudhu semua terjadi begitu alamiah tanpa ada komando dari siapapun. Beginilah indahnya islam…

Provokator,

Air mata ini kembali tumpah, ketika kami yang jumlahnya jutaan dan kondisi psikologis para laskar yang sudah siap syahid semua bergerak seirama mengikuti arahan para ulama. Ketika ulama meminta kami duduk, laskar-laskar paling militan sekalipun akan duduk mematuhi perintah para ulama. Sehingga dibarisan kami dapat dengan mudah kami mengenali siapa yang merupakan umat islam dan siapa yang bukan. Ketika ulama meminta kami duduk, ada sekelompok orang malah meneriaki para ulama “ngapain duduk!! Ngapain duduk!!” Orang-orang ini kemudian kami usir dari barisan dan ketika masih ada orang yang memprovokasi, salah seorang laskar langsung meminta KTP orang yang bersangkutan. Dan seperti yang beredar di media sosial ternyata orang-orang ini memang bukan umat islam, seketika itu juga teman-temannya yang meneriaki ulama dan memprovokasi massa hilang entah kemana. Situasi pun sangat kondusif hingga maghrib. Percikan-percikan kecil selama aksi damai masih dalam batas toleransi sebagai dinamika massa.

Selepas maghrib, kami yang diposisi sebelah timur istana menyaksikan letusan, dentuman dan cahaya-cahaya kilat di sebelah utara istana. Saya bersama para laskar yang awalnya duduk kemudian berdiri dan sudah bersiap diri dengan berbagai kemungkinan. Kemudian ulama meminta kami untuk duduk dan tetap tenang. Situasi massa di bagian saya masih sangat kondusif namun sekitar jam 8 malam ditengah situasi kondusif tersebut ada sebagian massa mengaku dari HMI (saya sendiri meragukan bahwa mereka HMI, karena HMI yang sedari awal bergabung dengan kami adalah massa yang cukup tertib, dengan atribut khas HMI seperti kopiah. Sedangkan massa yang memukul aparat tidak cukup meyakinkan sebagai HMI) merangsek ke depan dan memukul-mukul barisan polisi dengan bambu. Para ulama dan laskar yang sedang berusaha menenangkan “massa HMI” justru kemudian ditembaki oleh gas air mata yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan kali. Massa yang awalnya sangat kondusif, hanya karena ulah sekelompok orang tadi justru direspon sangat berlebihan oleh aparat dengan membabi buta menembak. Pemandangan kilatan-kilatan cahaya beterbangan di atas kepala kami seperti perayaan tahun baru. Massa yang tidak siap, sebagian besar dalam kondisi duduk, para ibu dan anak-anak banyak yang jatuh, terinjak, dan pingsan. Sebagai mantan aktivis dan korlap aksi kepung istana bulan mei 2008 saya cukup ahli untuk membedakan mana kerusuhan yang alami dan mana kerusuhan yang memang by design. Jelas sekali kerusuhan semalam adalah by design.

Ditunggangi kepentingan politik,

Selepas kerusuhan massa mundur cukup jauh, disinilah air mata saya kembali tumpah. Kami tidak saling mengenal, tapi kami semua dengan sigap untuk saling membantu korban gas air mata maupun korban lainnya. Sebagian yang memiliki uang berlebih memborong air minum dan membelikan pop mie kepada yang lain. Sementara sebagian lainnya sibuk mengipasi dan mengurus korban-korban yang pingsan. Kemudian atas perintah ulama kami mundur ke istiqlal. Ketika sampai di istiqlal kurang lebih pukul 10 malam saya melihat ribuan umat islam tidur di dalam masjid hingga ditrotoar. Saya menyaksikan situasi yang kurang baik ketika air di masjid istiqlal tidak setetes pun keluar. Apakah air memang habis atau sengaja dimatikan untuk mengusir umat islam dari masjid yang dibanggakannya?

Saya bersama beberapa saudara seperjuangan masih siap sedia menunggu perintah para ulama. Makanan dan minuman tersedia karena kami saling mentraktir orang-orang yang ada di kanan dan kiri kami. Sejurus kemudian ada seorang ulama yang memimpin kami untuk menuju gedung DPR/MPR. Massa yang sudah kelelahan dan tertidur seketika juga bangun dan kembali mempersiapkan diri. Kami long march dari istiqlal ke gedung DPR dan MPR. Situasi serupa, saling berbagi dan saling memberi perhatian kembali saya lihat di gedung DPR/MPR. Makanan dan minuman datang secara tidak terduga dari jamaah-jamaah masjid se jakarta. Saya berbincang dengan salah satunya, seorang Bapak dengan istri dan anaknya mengaku memasak dari siang atas inisiatif pribadi untuk membantu massa aksi “Usia saya tidak memungkinkan saya turun kejalan mas, inilah jalan jihad yang saya dan keluarga tempuh. Semoga Allah ridha dan memaafkan kami yang tidak ikut berjuang dijalanan” Seketika itu si Bapak pun menyeka air matanya.

Saya melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana umat islam seperti semu-semut yang saling tolong-menolong dan bekerja atas inisiatif pribadi tanpa komando dari siapapun.

Lalu saya ingin bertanya kepada pak jokowi “Siapakah orang yang menunggangi?” Sungguh tuduhan Bapak teramat keji menodai keikhlasan dan keindahan persaudaraan kami.

Untuk Pak Jokowi,

  1. Bapak harus sadar, bahwa bapak menjadi presiden hingga hari ini adalah karena para ulama berhasil menahan amarah massa kepada Bapak. Dengan kekuatan sebesar kemarin, demi Allah teramat mudah bagi kami untuk sekedar menduduki istana karena posisi kami sudah persis disamping pagar istana. Jikalau para ulama memerintahkan kami untuk menduduki istana, Demi Allah tidak ada keraguan sedikit pun dihati kami untuk menjadi syuhada di halaman istana.
  2. Tuduhan keji bapak bahwa kami ditunggangi menjelaskan dengan gamblang bahwa tim intelijen dan orang-orang pembisik Bapak adalah orang-orang yang tidak kompeten. Saya menjadi saksi bahwa mereka semua bergerak atas inisiatif dan uang pribadi.
  3. Andaikan Bapak menemui para ulama sebenarnya massa pun akan meninggalkan istana dengan damai, Jadi maafkan kalau saya harus mengatakan bahwa ketiadaan Bapak untuk menemui para ulama adalah bagian dari design agar aksi kemarin berakhir ricuh.
  4. Bapak bilang bapak tidak bisa mengakses jalan ke istana, bukankah pak JK juga bisa dijemput dengan helikopter dan mendarat dengan selamat di monas.

Terima kasih Allah, Tuhan semesta Alam….Engkau telah memberikan aku sebuah kenikmatan yang bahkan hingga hari ini sulit saya jelaskan dengan kata-kata. Kenikmatan Islam, kenikmatan ukhuwah, kenikmatan iman….

Kapanpun ulama kami meminta kami kembali kejalan, Demi Allah hanya maut yang akan menghalangi kami…

Bekasi, 5 Nopember 2016

Randy Bagasyudha

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s