Guru dan Penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Posted: 04/22/2015 in Catatan Kecil, Uncategorized

TIK  Komputer LaptopTulisan ini saya kutif dari majalah PGRI Kabupaten Bandung “Hibar Sabilulungan” edisi Maret 2015 yang tidak ada salahnya jika diposting pada blog ini.

Beberapa minggu yang lalu, saya dikejutkan sekaligus merasa prihatin mendengar kabar dari salah seorang rekan se-profesi yang menginformasikan hasil pertemuan dengan pengawas, dimana pada saat itu terjadi komunikasi yang kurang efektif antara pengawas dan peserta rapatnya. Sampai sampai pengawas itu sedikit menyindir dengan kalimat dalam bahasa sunda “Matak oge ulah sarieun berhadapan jeng komputer teh” sambil senyum simpul dan mengundang tawa peserta rapat.

Nah ternyata masalah itu (guru yang tidak melek ICT) yang membuat komunikasinya menjadi kurang efektif, karena pada saat itu Pengawas lagi menjelaskan tentang Kurikulum 2013 (kurtilas) yang hampir semua proses belajar hingga hasil akhir penilaian berhubungan dengan teknologi informasi, sementara sebagian besar guru yang menjadi peserta rapat boro-boro paham dan bisa mengoperasikan computer, istilah-istilahnya pun masih asing di telinga mereka.

Terlepas dari jadi tidaknya kurikulum 2013 diaplikasikan, yang jelas saat ini informasi dan teknologi komunikasi (ICT) menjadi alat yang sangat diperlukan untuk kegiatan belajar dan mengajar, seorang guru dituntut harus bisa menguasai teknologi informasi dan komunikasi ini, dan hal ini harus dijadikan salah satu kompetensi guru, sebab bisa berguna dan membantu dalam melaksanakan tugasnya, mulai dari pembuatan rencana belajar, penyajian pembelajaran, evaluasi dan analisis penilaian serta sebagai sarana untuk mencari dan mengunduh sumber-sumber pembelajaran.

Dalam sebuah acara Konferensi Guru Pemanfaatan TIK dan Kesiapan Guru dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, di Jakarta, yang diadakan sekitar bulan November 2014 yang lalu, seorang pembicara dari Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekom) Bapak Uwes Anis Chaeruman mengatakan “Kalau Indonesia seperti ini (Guru kurang menguasai TIK) berarti belum siap menghadapi MEA”

Masih kata beliau yang mendesak untuk dikuasai guru adalah penguasaannya terhadap TIK, seorang guru tidak cukup hanya menguasai pengoperasian TIK secara teknis. Melainkan guru harus mampu membangun proses pembelajaran yang mengintegrasikan TIK. Untuk itu menurutnya guru membutuhkan lebih dari sekedar pelatihan. Guru harus dibekali, di upgrade dan dibangun kapasitasnya secara terstuktur dan sistematis.

Beliaupun memaparkan standar level pembelajaran TIK versi UNESCO ada empat macam yaitu : emerging, applying, infusing dan transforming, bila mengacu pada level UNESCO tersebut, sekolah di Indonesia baru pada level kedua yaitu penerapan, guru mengajar dengan TIK dan peserta didik belajar TIK.

Begitu jauh ketertinggalan sebagian besar guru-guru Indonesia dalam penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi, bisa jadi salah satu penyebabnya sebagaimana yang di katakan seorang pengawas tadi “matak oge ulah sarieun teuing berhadapan jeung komputer teh”, takut jika berhadapan dengan computer, kurang berani untuk mencoba pijit sana pijit sini. Dan salah satu penyebab lainnya, ini biasanya terjadi pada guru-guru yang sudah usia lanjut, sering mengungkapkan “Sok we nu ngarora belajar komputermah, bapa mah geus kolot geus hararese jeung teu ngalarti diajarna oge”.

Seharusnya sebagai guru yang professional tidak perlu mengungkapkan seperti itu, idealnya seorang guru itu harus senantiasa meng-update dan meng-upgrade ilmu dan wawasannya tanpa menghiraukan usia. Ada kisah inspiratif yang sudah tidak asing lagi dimana ada seorang kakek yang sedang menanam pohon kurma, dan saat itu ada seorang anak muda melihatnya sambil berkata “Kek buat apa kakek menanam pohon kurma ini, bukankah ketika pohon kurma ini berbuah kakek belum tentu ada”, tapi sang Kakek menjawab denga tenangnya “Betul anak muda saat pohon kurma ini berbuah mungkin saya sudah tidak ada, tapi biarkanlah anak cucu saya yang akan menikmatinya kelak”. Anak muda pun tersipu malu.

Kisah ini bisa kita jadikan inspirasi tidak ada kata terlambat untuk belajar. Bukankah Islampun mengajarkan kepada kita kewajiban menuntut ilmu itu dari sejak ayunan sampai liang lahat, jadi sekali lagi tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu. Ayo kita sebagai guru kita update dan upgrade ilmu kita khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi biar kita Indonesia tidak ketinggalan jauh dari negara negara lain dan dari level yang distandarkan UNESCO.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s