Memetik Makna Hijrahnya Rasulullah SAW.

Posted: 10/29/2014 in Tausyiah

syiar walkingHijrah Rasulullah saw. telah berlalu empat belas abad yang lalu, namun dari hijrah dan celah-celah peristiwanya, banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik, beberapa diantaranya adalah:
Ketika Rasulullah menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa Allah swt memerintahkannya untuk berhijrah, dan sekaligus Rasulullah mengajak sahabatnya itu untuk berhijrah bersama, Abu Bakar menangis karena kegirangan. Ia bergegas untuk membeli dua ekor unta dan menyerahkannya kepada Rasulullah untuk memilih yang disukainya. Terjadilah dialog antara keduanya : Kata Abu Bakar : aku tidak akan mengendarai unta yang bukan milikku, unta ini kuserahkan untukmu. Jawab Rasulullah, baiklah, tapi aku akan membayar harganya. Abu Bakar tetap menginginkan agar Rasulullah mau mener­ima unta pemberiannya itu sebagai hadiah, namun nabi tetap menolaknya, akhirnya Abu Bakar menyetujui sikap dan pendir­ian nabi. Tentu timbul pertanyaan, mengapa nabi tetap ngotot untuk membelinya, bukankan Abu Bakar adalah sahabat beliau, dan bukankah nabi sebelum, bahkan sesudahnya sering menerima hadiah dan pemberian dari Abu Bakar? Disini terdapat suatu pelajaran yang sangat berharga.
Rasulullah saw. ingin mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai suatu usaha besar, dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang. Beliau bermaksud berhijrah dengan segala daya dan potensi yang dimilikinya, tenaga, pikiran dan materi bahkan dengan jiwa dan raga beliau. Dengan membayar harga unta itu nabi mengajarkan kepada Abu Bakar dan kepada kita bahwa dalam mengabdi kepada Allah, janganlah mengabaikan segala kemampuan dan potensi yang kita miliki. Allah mengingatkan Sesungguhnya kepada Tuhanlah tempat kembali (QS 96: 8).
Peristiwa lain yang menarik dari hijrah Rasulullah adalah, ketika beliau akan beranghkat ke Madinah beliau memesan keponakannya Ali bin Abi Thalib agar tidur di tempat pembaringan beliau, dan berselimut dengan selimut beliau. Hal demikian beliau lakukan adalah untuk mengelabui kaum musyrik Makkah. Ali pada hakikatnya mempertaruhkan jiwa raganya demi membela agama Allah. Disini sekali lagi kita hendak memetik pelajaran dari peristiwa ini, apa sebenarnya arti hidup ini menurut pandangan agama ?
Hidup bukanlah hanya sekedar menarik dan menghembuskan nafas. Sebab Al-Quran memberikan i’tibar kepada kita. Ada orang-orang yang terkubur, tetapi Al-Quran menyebutnya orang yang hidup dan mendapat rezeki QS 3 : 169. Yang artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan orang itu hidup di sisi tuhannya dengan mendapat rezki” Ali Imran 169.

Demikian juga sebaliknya, ada orang-orang yang menarik dan menghem­buskan nafasnya, namun dianggap sebagai orang-orang mati

“Tidaklah sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati, sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang di kehendakiNya QS 35:22.

Hidup dalam pandangan agama adalah kesinambungan antara dunia dan akhirat dalam keadaan berbahagia, kesinambungan yang melampaui usia dunia ini. Sehingga dengan demikian, tiadalah akan bermakna hidup seseorang manakala ia tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban-kewajiban yang lebih besar dan yang melebihi kewajiban-kewajibannya hari ini. Setiap orang beriman wajib mempercayai dan menyadari bahwa di samping wujudnya masa kini, masih ada lagi wujud yang lebih kekal dan dapat menjadi lebih jauh dan lebih indah daripada kehidupan dunia ini.
Firman Allah swt.
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui.

. Oleh sebab itu marilah segala potensi dan kemampuan yang kita miliki kita dayagunakan semaksimal mungkin, agar hidup dan kehidupan kita akan lebih bermakna, dan kita di akhirat kelak akan beroleh kebahagiaan yang lebih hakiki, dan lebih permanen. Kita berdoa kepada Allah kiranya Allah akan memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap beramal dan mengabdi kepada-Nya, sehingga kita akan memperoleh Rida-Nya.Wallahu ‘alamu bishawab. (Ust. )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s