Ramadhan Telah berlalu amalpun kian lesu

Posted: 09/02/2013 in Catatan Kecil

mesjid “Kelondon beli kue bolu, Harganya mahal sama dengan harga tahu”

“Walaupun Ramadhan telah berlalu, tapi semangat beramal tetap menggebu”

pantun di atas menjelaskan kepada kita bahwa biarpun bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita tetapi semangat untuk beramal harus tetap di jaga bahkan harus lebih ditingkatkan lagi di banding di bulan Ramadhan, karena justru di bulan Syawal inilah kita harus lebih meningkatkan amal ibadah kita, karena kalau kita lihat arti dari Syawal itu sendiri adalah peningkatan artinya jikalau dibulan Ramadhan kita habiskan waktu kita untuk melaksanakan berbagai macam ibadah dengan baik maka dibulan Syawal  harus lebih baik lagi.

Namun pada kenyataanya justru dibulan Syawal inilah amal ibadah kita mengalami penurunan, diantaranya selain penurunan ibadah, juga penurunan kualitas diri, salah satu contohnya jika di bulan Ramadhan kita bangun lebih pagi untuk melaksanakan makan sahur dan diteruskan dengan shalat subuh, maka setelah Ramadhan tak jarang kita sering kesiangan karena bangunya terlalu siang bahkan kadang-kadang shalat subuh pun terlewati, “wah gaswat nih !!! “ moga moga tidak terjadi

Diantara ciri yang sangat jelas adalah perayaan malam takbiran yang di isi dengan hura-hura menghambur-hamburkan uang untuk membeli petasan yang akan dibakar pada malam takbiran padahal pemerintah sudah melarangnya. Kemudian dibukanya tempat-tempat hiburan yang sebulan sebelumnya ditutup, tayangan-tayangan televisi yang sebelumnya islami berubah menjadi barati, artis-artisnya pun yang sebelumnya berjilbab maka dibulan Syawal ini jilbabnya entah kemana. Kemaksiatan seperti itu justru langsung ramai sejak hari pertama dibulan Syawal. Na’udzubillah! Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu. Umpatan, cacian, luapan emosional, dan kemarahan kembali “membudaya”. Bukankah ini semua bertolak belakang dengan arti Syawal? Bukankah ini seperti mengotori kain putih yang tadinya telah dicuci dengan sebaik-baiknya? Atau seperti kertas putih yang dicoret-coret dengan tinta hitam kelam? Jadilah ia kembali penuh noda. Jadilah ia kembali menghitam dan semakin memburam.

oleh karena itu mari kita senantiasa membiasakan atau meng- Istiqomahkan amalan-amalan kita terutama di bulan Syawal ini, sesuai dengan perintah Allah yang artinya berbunyi:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud : 112)

Jika dibulan Ramadhan kita melaksanakan saum satu bulan penuh maka dibulan Syawal ini kita lanjutkan dengan saum Syawal atau saum sunnah senin dan kamis, jika dibulan Ramadhan kita melaksanakan shalat tarawih satu bulan penuh maka dibulan Syawal ini kita lanjutkan dengan shalat tahajud, dan jika dibulan Ramadhan kita hatam membaca Al quran 30 juz maka dibulan Syawal ini kita lanjutkan dengan senantiasa membaca Al quran setiap hari, kalaulah kita tidak bisa membaca satu juz perhari maka minimal setangah juz perhari atau jikalau kita tidak bisa membaca setengah juz perhari  maka satu lembar saja kita baca perhari atau kalaulah kita tidak bisa membaca satu lembar perhari maka bacalah satu ayat perhari karena sebaik-baik amal itu adalah yang dilakukan secara kontinyu atau terus menerus walaupun amalan itu sedikit, sesuai yang disabdakan nabi Muhammad SAW:

إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitupun dengan Infaq dan shadaqah yang telah kita lakukan juga kita pertahankan. Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat di bulan Ramadhan. kita tak takut lapar dan sakit karena kita bergantung pada Allah selama puasa Ramadhan. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah (ma’iyatullah). Kita juga dibiasakan berlaku ikhlas dalam puasa tanpa perlu mengumumkan puasa kita pada siapapun. Nilai keimanan yang meliputi keyakinan, maiyatullah, keikhlasan, dan lainnya ini hendaknya tetap ada dalam bulan Syawal dan semakin meningkat. Bukan menipis tiba-tiba lalu hilang seketika!

Kita tengah berada di penghujung bulan Syawal 1434 H. tiga minggu sudah Ramadhan meninggalkan kita. Tanpa adanya kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa dengannya, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya, ataukah justru Allah telah memanggil kita, karena tidak ada jaminan bagi kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan yang akan datang kita tidak tahu kapan kematian itu menghampiri kita terkadang kematian itu laksana buah kelapa yang tua pasti jatuh bahkan tidak sedikit yang masih muda pun ikut jatuh, anak-anakku kalau berbicara tentang kematian teringat sebuah perkataan salah seorang sesepuh dipesantren Mathla Ul Honda “ eh maaf salah, Mathla Ul’Huda maksudnya”  yang mengatakan dengan bahasa jerman” Ari maotmah ngadodoho, teu aya nu nyaho, datangna

teu mere tempo, teu isuk teu pageto, teu nu ngora teu nu jompo” (Artinya silahkan tanya ke guru bahasa sunda)

Kita juga tidak pernah tahu dan tidak pernah mendapat kepastian apakah ibadah-ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT atau tidak. Dua ketidakpastian inilah yang membuat sebagian salafus shalih berdoa selama enam bulan sejak Syawal hingga Rabiul Awal agar ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima, lalu dari Rabiul Awal hingga sya’ban berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan berikutnya. Dan mudah-mudahan kitapun senantiasa  optimis agar semua amalan yang telah kita kerjakan di bulan Ramadhan ataupun yang akan kita lakukan diterima disisi Allah SWT, dan mendapat gelar muttaqin (orang-orang yang bertaqwa) sesuai dengan yang dijanjikan Allah SWT.Amin ya rabbal aalamin (Usman)

Komentar
  1. travelumroh bandung mengatakan:

    tak terasa sekarang sudah 1435 H gan, izin blogwalking

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s