Hakikat kehidupan Dunia

Posted: 03/27/2013 in Tausyiah

awan2Saudaraku yang dirahmati Allah, Pada kutipan tema di atas, mungkin saudaraku sekalian pernah tahu dan memahami akan hal tersebut, Kemudian para ulamapun mengingatkan dan mentausyiahkan tentang hakekat kehidupan dunia. Penulis tertarik mengulas hal tersebut karena yakin ini bisa menjadi pemicu hati bagi kita sekalian agar selalu melaksanakan, menjalani dan mengisi kehidupan di dunia ini dengan sebaik – baiknya. Karena Allah dalam firmanya telah banyak memerintahkan dan mengisyaratkan tentang hakikat kehidupan di dunia ini kemudian memberikan gambaran kepada seorang mu’min tentang apa yang harus dilakukan oleh dirinya pribadi, keluarga, dan masyarakat luas yang pada akhirnya mendatangkan ridho dan kebahagian dunia dan akhirat dari Allah SWT.

Saudaraku yang dirahmati Allah, dalam keseharian kita, tidak disangsikan lagi, kita adalah orang-orang yang senantiasa berbuat dosa menzalimi diri kita sendiri, melanggar perintah Allah atau meninggalkan kewajiban yang Dia perintahkan kepada kita. Oleh karena itu mari kita mulai belajar mentafakuri kehidupan, mungkin selama ini kita kehilangan arah dan cahaya dien yang mungkin telah lama meredup karena kita selalu dihinggapi oleh bisikan musuh kita yaitu setan yang selalu mencoba merasup dan menggoda jiwa setiap mu’min agar terlena dengan keindahan yang ditipu daya oleh mereka.

Agar kita bisa menyikapi kehidupan dunia , maka kita harus mengetahui hakikat dari dunia. Sebagian ulama mendefinisikan bahwa dunia berasal dari kata danaa artinya adalah sesuatu yang dekat. Kalau kita maknai bahwa dunia mempunyai arti sesuatu yang sesaat tidak abadi ataupun sebentar, dari makna di atas dapat kita pahami bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah sesaat, tidak abadi dan sebentar. Sebagai contoh pada saat ini kita sedang terpuruk atau sedang bahagia, maka kita tidak usah galau karena kita memahami bahwa dunia ini hanya sesaat. Ketika keadaan kita sedih maka kuncinya adalah sabar dan ketika keadaan kita bahagia maka kuncinya adalah syukur. Karena itu Allah mengingatkan dan mengisyaratkan di dalam firmanya yang cukup mengelitik bahwa Allah menganalogikan dunia ini hanya sebatas senda gurau dan main – main.
Dan tidaklah kehidupan ini melainkan senda gurau dan main – main. Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya hakikat kehidupan, kalau mereka mengetahui “ ( QS. Al-Ankabut : 64 ).

Akan tetapi walaupun Allah sudah mengingatkan bahwa dunia ini sesaat, sebentar, tidak abadi. Tetapi banyak manusia yang terlena dalam kehidupan ini atau tertipu dengan kehidupan dunia ini. Sehingga pada akhirnya manusia cenderung selalu berlebihan. Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadistnya :
“Andaikata manusia memiliki dua lembah harta, tentu ia menginginkan yang ketiga, dan tidak ada yang dapat mengenyangkan perutnya kecuali tanah ( kematian ), dan Allah menerima kepada orang yang bertaubat “ ( HR. Bukhari ).
Jadi supaya kita tidak terlena dengan kehidupan dunia maka kita harus mempunyai prinsip bahwa dunia ini bukan tujuan akhir dari kehidupan tetapi sebagai alat atau sarana untuk mendapatkan kebahagian abadi di akhirat kelak. Dengan cara mengerahkan kemampuan kita untuk beramal sholeh. Secara nyata kita boleh menikmati kehidupan dunia sepanjang ada dalam koridor aturan Allah dan yang tidak diperbolehkan itu adalah kita diperbudak oleh dunia. Ada pesan Ali Bin Abi Thalib yang sangat menarik untuk kita perhatikan : ”Jadilah kamu hamba – hamba akhirat dan janganlah kamu menjadi hamba – hamba dunia. Sesungguhnya kehidupan ini tempat berkarya / beramal dan bukan tempat hisab /( perhitungan). Sedangkan kehidupan akhirat tempat hisab dan bukan tempat beramal. ( HR. Bukhori ).
Jadi kita harus bisa mendahulukan kehidupan akhirat dengan mengerjakan segala amal sholeh sebagai bentuk taqorub ( mendekatkan diri ) kepada Allah. Akan tetapi kitapun tidak boleh melupakan kehidupan dunia karena kita sedang hidup di dunia ini. Sebagai salah satu untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT adalah dengan cara beribadah kepada-nya. Dan ibadah itu merupakan hakikat kita di ciptakan. Allah SWT berfirman :
Artinya : Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku. ( QS. Ad-Dzariat : 56 ).
Saudaraku yang dirahmati Allah, kesimpulan dari apa yang di sampaikan, penulis mengutip satu hadist yang di riwayatkan oleh Imam Ahmad dan Thirmidji. Bahwa Rosul memberikan gambaran untuk mengisi kehidupan yang sementara ini. Sabda Rosul : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah perbuatan dosa dengan amal kebajikan, niscaya kebajikan tersebut akan menutupinya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, thirmidji ).
Rasulullah Bersabda :“ Wahai hamba-ku sempatkanlah beribadah kepada-ku, nanti aku penuhi hatimu dengan kekayaan kecukupan dan tanganmu dengan rizki. Janganlah menjauhkan diri dari-ku, nanti aku penuhi hatimu dengan kemiskinan dan tanganmu akan sarat dengan kesibukan, ( HR. Thurmudji ). Wallahu A’lam Bisawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s