ISLAM ITU ITTIBA’ BUKAN IBTIDA’

Posted: 02/14/2012 in Opini

Hampir lima belas abad yang lalu Islam itu lahir, hingga Islampun masuk kenegeri Indonesia yang di bawa oleh para aktifis dakwah pada masa itu, maka selama perjalan waktu dan keterbatasan teknologi pada waktu itu tentunya ajaran yang dibawa oleh para aktifis dakwah pada waktu itu pun tidak selengkap yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dan ketika masukpun masih disesuaikan dengan budaya kearifan lokal pada waktu itu, sehingga ajaran Islampun masih ada yang terkontaminasi budaya lokal tersebut. Dan inilah kewajiban kita sebagai seorang muslim harus bisa mengembalikan lagi kepada Islam yang sesuai dengan yang di contohkan Rasulullah Saw. Alias kita dalam urusan agama ini berittiba’ langsung pada Rasulullah Saw. Dan apaun apa itu Ittiba’ kita simak penjelasan singkat berikut ini.

  1. 1.       Apa itu Ittiba’

Ittiba’ merupakan rambu-rambu shirothol mustaqim. Demikian pula, ittiba’ adalah perinsip atau dasar Islam yang sangat wajib kita ketahui. Namun jelasnya Yang dimaksud dengan ittiba’ sebagai dasar aturan dan hukum Islam, adalah mengikuti Rosululloh Saw, dalam memahami Islam dan menerapkannya. Karena Rosululloh solallohu ‘alaihi wa salam sendiri hanya komitmen mengikuti wahyu Ilahi. Oleh karena itu, pada hakikatnya ittiba’ adalah mengikuti wahyu dari Alloh Subhanahu wa Taala. Dan juga merupakan pengamalan dari syahadat anna Muhammadar Rosululloh.

Saudaraku yang budiman, ittiba’ adalah pengawal kemurnian. Tidak akan mungkin, kita dapat menjaga kemurnian Islam, kecuali dengan tetap konsisten (sangat tegas) kepada ittiba’. Meninggalkan ittiba’ secara keseluruhan, berarti keluar dari Islam. Sedangkan meninggalkan sebagian dasar ittiba’, berarti masuk ke dalam lingkaran bid’ah, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

Pemahaman dan pelaksanaan tauhid sendiri harus di-kawal ketat dengan ittiba’. Jika tidak, maka pasti melahirkan pemahaman dan pelaksanaan yang salah, yang bisa sampai kepada kesyirikan, atau paling sedikit akan me-nyampaikan kepada bid’ah yang sesat. Yang dimaksud dengan pengawalan ittiba’, adalah bahwa pemahaman dan pelaksanaan tauhid dan agama Islam secara keselu-ruhan, wajib mengikuti jalan Rosululloh solallohu ‘alaihi wa salam.

Saudaraku yang budiman, mari kita simak kedudukan ittiba’ dalam Islam melalui hal berikut:

Pertama. Rosululloh solallohu ‘alaihi wa salam mengikuti wahyu dan tidak sekali-kali memasukkan ke dalam Islam suatu ajaran yang berasal dari produk diri beliau sendiri.

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Robb-mu kepadamu. Sesungguhnya Alloh adalah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan..” [QS. al-Ahzab (33): 2]

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. an-Najm (53): 3-4]

Yang kedua. Kita diperintahkan untuk ittiba’.

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَاتَذَكَّرُونَ

“Ikutilahatau ittiba’lah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengi-kuti wali-wali selain-Nya.” [QS. al-A’rof (7): 3]

Selanjutnya hal yang ketiga. Yakni ittiba’adalah bukti kecintaan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan merupakan syarat mendapatkan kecintaan-Nya. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala dalam surat ali ‘Imron ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: ’Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh akan men-cintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Saudaraku yang budiman rohimaniyallohu waiyyakum, Ittiba’ juga memiliki arti

قَبولُ قَولِ الْقَاءلِ وأنتَ تَعلَمُ حُجتَهُ

Yaitu menerima perkataan orang lain dan (engkau) mengetahui hujjahnya, atau engkau mengetahui sumber alasannya.

Al Imam Ibnul Qoyyim mengatakan, bahwa Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan.

Oleh karena itu, seorang muslim wajib ittiba’ kepada Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, dengan cara menempuh jalan yang beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan. Begitu banyak ayat Al-Qur’an, yang memerintahkan setiap muslim agar selalu mengikuti (ittiba’) kepada Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya firman Alloh Ta’ala:

“Artinya : Katakanlah: “Taatilah, patuhilah Alloh dan Rosul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang kafir” [Ali lmran : 32]

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa :59)

“Artinya : Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintal Alloh, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Ali lmran :31]

Rosululloh Saw. bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Seandainya Musa hidup, maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku” [Dikeluarkan oleh lbnu Abi Syaibah, Ahmad )

Hadits ini merupakan dalil yang qath‘i atas wajibnya mengesakan Nabi Saw. dalam hal ittiba’ atau menjadikan Rosululloh satu-satunya dalam hal pengikutan. dan ini merupakan konsekuensi syahadat ‘anna Muhammadan rosululloh”. Karena itulah Alloh Ta’ala sebutkan dalam surat Ali ‘lmran ayat 31 yang berbunyi:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.

Demikian juga Alloh memerintahkan setiap muslim agar ittiba’ atau mengikuti kepada sabilil mukminin yaitu jalan para sahabat Rosululloh Saw. dan mengancam dengan hukuman yang berat kepada siapa saja yang menyeleweng darinya:

Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (An-Nisa’: 115)

Saudaraku yang budiman, Al-Imam Asy-Syafi’  mengatakan, “Jika kalian menjumpai sunnah Rosulullah Saw. maka ittiba’lah(ikutilah) kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun juga.”

Beliau juga berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shohih yang menyelisihinya. Maka hadits Nabi lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”.

Murid Al-Imam Asy-Syafi’i, yakni Al-Imam Ahmad mengatakan, “Ittiba’ adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya”.

Saudaraku yang budiman, ahlus Sunnah walJama’ah telah ijma’ (sepakat) bahwa tidak wajib ittiba’ atau mengikuti kepada seorangpun dalam segala sesuatu kecuali kepada Rosululloh Saw.

  1. 2.       Apa itu Ibtida’

Ibtida adalah merupakan perbuatan mengada-ada dalam urusan agama , dengan kata lain tidak ada contoh dari Rasulullah Saw,atau membuat hal-hal yang baru dalam urusan agama.

Ada Hadis yang mengingatkan kepada kita supaya kita tetap Ittiba’ dan bukan Ibtida’

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

رواه البخاري ومسلم

وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Ummul Mu’minin Ummu Abdillah, A’isyah radhiallahuanha dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang membuat-buat dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori danMuslim)
Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.

Hadits ini merupakan salah satu dasar Islam. Jika hadits إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ merupakan parameter batiniyah dari setiap perbuatan, maka hadits ini adalah parameter lahiriyah dari setiap amal manusia. Semua perbuatan yang tidak didasari dengan perintah Allah dan Rasul-Nya adalah tertolak. Demikian juga mereka yang membuat satu tambahan dalam agama, namun tambahan tersebut tidak memiliki dasar baik dalam al-Qur’an maupun hadits, maka tambahan tersebut sama sekali bukan bagian dari agama, dan dengan sendirinya tertolak.

Dalam sebuah hadits yang lain dikatakan pula :
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya bahwa Rasulullah saw bersabda dalam khutbahnya: “Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad saw. Seburuk-buruk perkara adalah perkara baru yang dibuat-buat, dan setiap perkara baru yang dibuat-buat adalah bid’ah. Sedang setiap bid’ah adalah sesat”.

Dalam riwayat Baihaqi terdapat tambahan:
“Dan setiap kesesatan berada di neraka.”

Saudaraku dari uaraian yang singkat ini jelaslah bahwa dalam urusan agama kita harus berittiba’ kepada Rasulullah Saw, jangan sekali-kali berani menambah/mengurangai ketentuan agama yang sudah di gariskan oleh Allah swt. Dan rasulnya. Terakhir semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berittiba kepada Rasululah Saw serta di Istiomahkan dalam Al Islam ini. Amiin..

Komentar
  1. fitri mengatakan:

    kunjungan balik….

  2. ringgi mengatakan:

    jazakallah

  3. Dewor mengatakan:

    izin copas…syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s