Renungan 1 Muharam 1432 Hijriah

Posted: 12/07/2010 in Opini

 

Setelah shalat Isya hujan mulai reda tinggal rintik-rintik kecil, saya bergegas dengan teman untuk menghadiri pembinaan rutin, namun di tengah perjalanan saya melihat kerumunan orang-orang yang saya kira sedang melihat sungai Citarum yang meluap dan itu artinya jalan akan tergenang air alias banjir.  Tapi ternyata yang saya banyakan itu salah, kerumunan orang-orang  itu adalah rombongan anak-anak mesjid serta para pembimbingnya yang dengan suka cita dibawah rintik-rintik hujan sambil mengacungkan api obor dan menabuh bedug dibarengi takbir. Opp ternyata mereka sedang menuju ke alun-alun untuk merayakan pergantian tahun baru Islam. Memang tidak ada yang salah, tapi ini merupakan “lokal wisdom” nya sebagian muslim Indonesia dan bukan yang Rasulullah Saw  contohkan.

Waktu dalam Islam merupakan hal yang sangat penting, bahkan ada ayat Al-Qur’an (QS. Al-Ashr) yang membahas khusus tentang waktu, selain itu juga Ibadah dalam Islam terutama Shalat yang lima waktu selalu dikaitkan dengan yang namnaya waktu yang merujuk kepada perputaran matahari dan bulan, sehingga ada yang namanya tahun komariyah dan tahun syamsiyah.

Sebagai seorang muslim tentunya merasa bahagia sekaligus bangga, ketika menghadapi tahun baru Hijriyah, karena Islampun yang telah memiliki sebuah peradaban memiliki hitungan waktu sendiri. Namun pergantian tahun seyogyanya kita sikapi sama seperti pergantian bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik. Yang penting bagaimana cara kita mengisi waktu tersebut apakah mau diisi dengan hal-hal positif atau sebaliknya. Tentunya sebagai seorang muslim berharap dan akan mengusahakan untuk mengisi waktu itu dengan hal-hal positip.

Dan kalau kita lihat kebelakang, para sahabat yang menentukan awal tahun 1 Hijriyah yang di hitung dari mulainya hijrah Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah, sungguh disana ada pelajaran yang luar biasa, bagaimana proses hijrahnya Rasulullah saw pada waktu itu yang penuh heroik, yang patut kita tiru. Tentunya sekarang ini tidak ada yang namanya hijrah tempat/wilayah yang ada hijrah dari kejelekan menuju kebaikan, dari musyrik menuju tauhid, dari bohong , tipu muslihat dan dzolim menuju kejejujuran dan adil. Mungkin hijrah semacam ini yang mesti kita lakukan.

Tentunya apa yang dilakukan oleh sebagian muslim dalam merayaakan tahun baru Islam dengan cara memadukan budaya lokal, tidak masalah selama tidak bertentangan dengan syariat Islam itu sendiri, kita  anggap ini bagian dari khasana budaya Islam Indonesia, dan semoga dalam menyikapi pergantian tahun ini di penuhi / diisi kegiatan-kegiatan positif seperti muhasabah, taklim dan lain-lain sehingga dengan pergantian tahun ini kita semakin dekat denga Allah Swt. Bukah malah sebaliknya. Wallahu’alam. Selamat tahun baru 1432 H.

Komentar
  1. Pelatihan Motivasi mengatakan:

    artikelnya mencerahkan…=)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s