DARI TANAH PARKIR MENUJU TANAH SUCI

Posted: 11/15/2010 in Uncategorized

Tulisan ini saya sadur dari majalah percikan iman edisi nov 2010, ada banyak pelajaran dalam kisah ini, terutama motivasi. motivasi kepada yang selama ini menganggap Ibadah haji hanya bisa di lakukan oleh orang-orang kaya. mungkin ini salh satu cerita dari bnyak cerita orang-orang yang secara ekonomi relatif miskin, tapi bisa pergi ke tanah suci. bagaimana kisahnya sehungga mereka bisa seperti itu simak saja kisah lengkapnya berikut ini :

Odin Gustandi atau lebih akrab disebut Mang Udin, hijrah dari Garut ke Bandung pada 1984, pria 51 tahun ini berusaha menafkahi keluarganya dengan menjadi petugas parkir di lingkungan Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor. Merasa bahwa penghasilannya sebagai tukang parkir kurang memadai, Mang Udin pun memutuskan untuk melakukan usaha sambilan, yaitu berjualan air minum kemasan dengan modal seadanya.

“Saya hanya berusaha menjalani yang dapat saya lakukan. Saya tidak muluk-muluk karena tahu sulitnya mendapatkan pekerjaan layak dengan penghasilan besar. Walaupun awalnya terpaksa, lama kelamaan saya menekuni pekerjaan ini sambil bersabar. Saya yakin bahwa jalan ini merupakan kunci pembuka rezeki bagi saya dan keluarga,” ungkap Mang Udin.

Tanpa mengecilkan arti rezeki pemberian-Nya, Mang Udin mengaku pendapatan dari pekerjaan yang ia tekuni selama tujuh tahun dinilai pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bapak dari empat orang anak ini menerangkan, “Saya berharap anak-anak bisa sekolah tinggi dan memiliki penghidupan yang lebih baik di masa depannya. Alhamdulillah, walaupun pendapatan saya tidak menentu dan kerap berbenturan dengan kebutuhan lain, menabung untuk pendidikan anak menjadi prioritas utama.”

Ketekunan Mang Udin mulai menuai berkah pada 1998 atau lebih tepatnya ketika Fakultas ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad membuka program D3 yang artinya jumlah mahasiswa pun semakin bertambah, khususnya yang menggunakan kendaraan pribadi. “Pendapatan sebagai tukang parkir itu ditentukan dari jumlah kendaraan yang parkir. Semakin banyak kendaraan yang parkir, maka pendapatan pun akan semakin bertambah,” jelas Mang Udin.

Sebenarnya, antara 1998 dan 2006, Mang Udin sempat menjadi petugas satpam Fikom Unpad dan bahkan telah masuk dalam daftar pegawai negeri sipil (PNS) yang siap diangkat. Namun, tawaran itu ditolak dengan alasan memberikan peluang kepada orang lain. Banyak rekan-rekannya merasa heran dengan keputusan Mang Udin tersebut. Namun demikian, ia berkeyakinan bahwa rezeki sudah ada yang mengatur.

Mang Udin paham betul bahwa keputusannya menolak kesempatan menjadi PNS berarti telah menghilangkan peluang mendapatkan uang pensiun sebagai jaminan di hari tua. Menyikapi hal itu, saumi Ibu Uce ini rajin menyimpan setiap penghasilan lebih yang ia dapatkan, baik dalam bentuk tabungan maupun dengan membeli sebidang tanah. Ia memiliki cita-cita, suatu hari tabungannya tersebut akan dipergunakan untuk naik haji beserta istri tercinta.

Pada 2008, tabungan Mang Udin sudah mencukupi untuk membayar ongkos naik haji. Secara materi, Mang Udin telah mampu berhaji. Namun demikian, kehendak Allah berkata lain. Karena keterbatasan kuota (haji), Mang Udin beserta istri tidak bisa langsung brangkat haji tahun itu juga. Dari hal ini, Mang Udin mendapatkan pelajaran bahwa ternyata untuk beribadah haji tidak hanya cukup memiliki niat, kesehatan, kekuatan mental, dan memiliki materi semata. Lebih dari itu, faktor terpenting adalah ketentuan-Nya. Apabila Allah Swt. belum merestui, sebesar apa pun ikhtiar kita, niscaya tidak akan bisa pergi berhaji. Sebaliknya, apabila Allah Swt. telah meridoi, kita tidak perlu menunggu dua atau tiga tahun. Jika Allah berkehendak, tahun ini pun kita bisa pergi haji dengan cara dan jalan yang tidak akan pernah kita duga sebelumnya dan Mang Udin paham betul semua itu. Menurutnya, tertundanya niat berhaji pada 2008 membuat dirinya bisa lebih belajar dan menambah pengetahuan agama, khususnya yang berkaitan dengan ibadah haji. Selama dua tahun, Mang Udin bersama istri mengikuti program pelatihan haji dengan giat sebelum akhirnya berkesempatan mewujudkan mimpinya berangkat haji pada 23 Oktober tahun ini.

Ketika ditanya apa rahasianya sampai bisa pergi haji tahun ini, Mang Udin menjawab, “Selain kecukupan materi, kita juga harus giat melaksanakan rangkaian ibadah dan muamalah yang bisa memuluskan niat pergi ke Tanah Suci. Niat yang kuat hendaknya berbanding lurus dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Selain ikhtiar mengumpulkan biaya, kita juga harus banyak bersedekah karena ia adalah sarana yang dapat memanjangkan rezeki. Tentu saja, kita juga tidak boleh melewatkan shalat wajib lima waktu beserta rawatibnya yang kemudian dirangkai dengan doa.”

Lantas, apa yang dirasakan Mang Udin menghadapi detik-detik keberangkatannya ke baitullah? “Ka-bah sudah terbayang di depan mata. Rasanya saya sudah berada di rumah Allah,” ucapnya lirih karena menahan tangis bahagia.

Siapa yang menyangka seorang tukang parkir bisa pergi menunaikan ibadah haji? Sudah selayaknya kisah Mang Udin ini membuka mata kita bahwa betapa niat kuat untuk beribadah haji tidak akan bisa dihalangi oleh apa pun, termasuk biaya yang besar sekalipun. Lihatlah Mang Udin. Kerja keras, kesabaran, serta ketawakalannya telah membuahkan hasil. Sekarang giliran kita untuk melakukan hal yang sama. Insya Allah, kalau tidak tahun ini, dua atau tiga tahun ke depan, kita-lah yang akan dipanggil menjadi tamu Allah. Amin.

Demikian kisah tukang parkir yang bisa ke tanah suci mekah, semoga kita bisa mengambil pelajaran, motivasi dan inspirasi drai kisah tersebut

Komentar
  1. rahassia mengatakan:

    kisahnya memberi pelajaran berharga, saya juga percaya selagi ada niat disertai usaha, dan doa, Allah pasti akan ngasih jalan…

    lagipula kita kan dikasih akal sbg modal pertama untuk bertahan hidup…

    terima kasih dah mampir…
    mampir lagi ya , tolong tinggalin nama blognya juga ya…

    http://rahassia.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s