Idul Fitri Ala Rasulullah SAW.

Posted: 09/07/2010 in Tausyiah

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah Muhammad saw, ada dua kebahagiaan bagi orang yang melakukan ibadah shaum, yang pertama ketika dia berbuka serta merayakaan Idul Fitri dan yang kedua perjumpaannya dengan Allah swt. Dan inilah puncak kenikmatan dari segala kenikmatan.

Kembali lagi pada kenikmatan yang pertama yakni saat berbuka dan merayakan Idul Fitri, saat berbuka tentunya kita sudah pada hapal yakni harus menyegerakan berbuka ketika adzan maghrib tiba dan ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw, tapi bagaimana ketika Idul Fitri, Rasulullah saw pun memberikan contoh bagaimana Beliau ketika mau merayakan Idul Fitri, kurang lebihnya sabagaimana yang tercantum dibawah ini :

  1. Mandi besar. Biasanya Rasulullah Saw melakukan mandi besar sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fitri. Karena itu Ibnu Umar r.a. pun melaksanakannya. “Diriwayatkan, sesungguhnya Ibnu Umar biasa mandi pada hari raya Idul Fitri sebelum pergi ke tempat shalat.” (H.R. Malik)
  2. Sarapan dulu sebelum pergi kelapangan untuk shalat Ied.. Anas r.a. berkata, “Nabi Saw. tidak pergi shalat Idul Fitri melainkan sesudah makan beberapa biji kurma dengan hitungan ganjil.” (H.R. Ahmad dan Bukhari) ini mungkin hikmahnya karena perut kita sudah terbiasa diisi waktu sahur, jadi jika tidak sarapan dulu bisa menyebabkab perut sakit.
  3. Memakai busana terbaik. Ingat busana terbaik, bukan terbaru. Hasan As-Sibti r.a. berkata, “Rasulullah Saw. memerintah kami agar pada hari raya mengenakan pakaian terbaik, memakai wangi-wangian terbaik, dan berkurban dengan hewan yang paling berharga.” (H.R. Hakim)
  4. Untuk memperlihatkan Syiar Rasulullah Saw pun Shalat Ied di lapangan. Abu Said Al Khudri berkata, “Rasulullah Saw. keluar menuju mushala (lapangan) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Yang pertama beliau kerjakan adalah shalat.” (H.R. Bukhari).. Namun kalau tidak memungkinkan bisa dilakukan di masjid. Abu Hurairah r.a. berkata, “Kami pernah kehujanan pada hari Id, lalu Nabi Saw. shalat Id bersama kami di masjid.” (H.R. Abu Daud)
  5. Menuju lapangan dengan jalan kaki. Ibnu Umar r.a. berkata, “Rasulullah Saw. jika pergi shalat Idul Fitri dengan berjalan kaki dan kembalinya juga dengan berjalan kaki.” (H.R. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa jalan kaki menuju lapangan itu sunah, kalaupun kita berkendaraan, itu tidaklah terlarang.
  6. Biasanya Rasulullah Saw mengambil arah jalan yang berbeda. Ibnu Umar r.a. berkata, “Sesungguhnya Nabi Saw. pernah pergi melaksanakan shalat Id dengan mengambil satu jalan dan kembalinya mengambil jalan yang lainnya.” (H.R. Abu Daud). Bila memungkinkan, hukumnya sunah kalau arah jalan pergi dan arah jalan pulang berbeda. Namun kalau tidak memungkinkan, menempuh jalan yang sama pun tidak dilarang dan tidak akan mengurangi nilai ibadah shalat Id. Ini pun hanya merupakan keutamaan.
  7. Wanita haid boleh hadir di lapangan. Ummu Atiyah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. memerintahkan kami membawa serta anak-anak perempuan yang hampir baligh, yang haid, dan anak-anak perempuan yang masih gadis pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Namun perempuan-perempuan yang haid tidak boleh shalat.” (H.R. Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa wanita haid boleh menghadiri khutbah Idul Fitri dan Idul Adha, tetapi mereka tidak boleh shalat.
  8. Bertakbir pada Hari Raya. “… dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan shaum serta bertakbir (mengagungkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 185). Ayat ini menegaskan, apabila selesai melaksanakan shaum, bertakbirlah (mengagungkan Allah). Jumhur ulama berpendapat, takbir pada hari raya Idul Fitri pada waktu pergi shalat Id sampai dimulainya khutbah. Azzhuri menjelaskan, “Nabi Saw. berangkat shalat Idul Fitri. Beliau bertakbir mulai dari rumahnya sampai di tempat shalat (lapangan).” Menurut Imam Hakim, ini merupakan sunah yang tersiar di kalangan para ahli hadis. Imam Malik, Ishak, Ahmad, dan Abu Tsaur pun berpendapat demikian.
  9. Shalat Id. Secara prinsip, cara shalat Id sama dengan cara shalat Subuh, yaitu dua rakaat. Perbedaannya, dalam shalat Id, takbir pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan takbir pada rakaat kedua sebanyak lima kali. Selesai shalat, kita mendengarkan khutbah Id. Perhatikan keterangan berikut. Amr bin Auf r.a. berkata, “Nabi Saw. betakbir pada shalat Id tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua sebelum membaca Fatihah.” (H.R. Tirmidzi)
  10. Saling mendoakan. Jubair bin Nafi r.a. menyebutkan, “Apabila para sahabat bertemu pada hari raya Idul Fitri, mereka saling mendoakan dengan ucapan ‘Taqabbalallahu Minna wa Minkum’, artinya ‘Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita.’” Bagaimana cara menjawabnya? Ada tiga cara. Pertama, jawab dengan ucapan yang sama yaitu “Taqabbalallahu minna wa Minkum.” Kedua, jawab dengan “Shiyamana wa shiyamakum” (shaum saya dan shaum Anda). Ketiga, jawab dengan “Aamiin” (Mudah-mudahan Allah mengkabulkan). Ketiga jawaban ini bisa dipakai karena tidak ada satu pun hadits yang tegas menjelaskan jenis jawabannya. Jadi, silahkan pilih mana saja yang paling memungkinkan.*

Nah demikian kiranya yang dilakukan Oleh Rasulullah ketika merayakan Idul Fitri. semoga pada Ramadhan kali ini semua Ibadah kita diterima oleh Allah Swt. Dan pada kesempatan ini pula saya dengan penuh kerendahan hati mohon maaf kepada pembaca semua atas segala ke khilafan yang telah saya lakukan. SELAMAT IDUL FITRI 1432 H. Taqobbalallahu Minna Waminkum Shiyamana Wa Shiyamakum. Amiin…                                                   *dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s