GEDUNG SATE DAN ANGKLUNG PADA UANG KOIN

Posted: 07/24/2010 in Informasi

Sebagai orang Jawa Barat, saya merasa bangga ketika dua ikon Jawa Barat Gedung sate dan Angklung akan menjadi gambar pada uang logam keluaran BI. untuk selanjutnya bisa dibaca kutipan berita dari harian PR.

Dua ikon Jawa Barat, Gedung Sate dan angklung, mulai saat ini akan semakin dikenal hingga ke pelosok nusantara. Hal tersebut menyusul setelah resmi diedarkannya uang logam baru pecahan Rp 1.000 oleh Bank Indonesia (BI), yang memiliki desain kedua ikon tersebut. Selain itu, BI juga meluncurkan uang pecahan Rp 10.000 tahun emisi 2005 dengan desain baru. Peluncuran uang baru tersebut dilakukan Wakil Presiden Boediono di Gedung Bank Indonesia Bandung, Selasa (20/7).

Acara juga dihadiri Pjs. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin. Pjs. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, pemilihan motif angklung dengan latar belakang Gedung Sate dalam uang logam baru pecahan Rp 1.000 merupakan wujud pelestarian kebudayaan nasional. “Pemilihan gambar angklung sebagai alat musik tradisional merupakan wujud dari pelestarian kebudayaan nasional. Demikian juga pada gambar Gedung Sate di Bandung yang juga merupakan wujud pelestarian tempat bersejarah dalam kehidupan bangsa,” ujarnya. Uang logam Rp 1.000 tersebut bergambar Garuda Pancasila pada bagian depan, sedangkan pada bagian belakang bergambar angklung dengan latar belakang Gedung Sate. Uang tersebut berwarna putih keperakan, yang terbuat dari besi/baja yang dilapisi dengan nikel (nickel plated steel). Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengungkapkan rasa bangganya atas digunakannya dua ikon Jabar tersebut pada alat pembayaran yang sah. “Tentu saja hal ini merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi Jabar. Diharapkan ke depan Gedung Sate dapat dikenal secara luas oleh masyarakat di Indonesia sebagai landmark Jabar,” katanya. Heryawan menambahkan, dengan digunakannya angklung juga dapat mendorong perkembangan budaya. “Hal tersebut tentunya akan berdampak pada kepariwisataan yang memberikan efek tular kepada kesejahteraan masyarakat,” katanya. Pemimpin Bank Indonesia Regional Jabar Yang Ahmad Rizal menambahkan, dengan disatukannya gambar angklung dengan Gedung Sate merupakan penegasan bahwa kedua ikon tersebut berada di Jabar. “Kenapa itu tidak dipisahkan, adalah untuk mewakili bahwa secara otomatis angklung berasal dari Jabar,” katanya. Salah seorang warga, Sunu Widianto yang melihat pertama kali uang pecahan Rp 1.000 tersebut mengaku secara fisik lebih menyukai emisi sebelumnya, yakni yang terdiri atas dua warna. Secara penampilan, menurut dia, hal itu lebih elegan. Hanya, Sunu mengaku, dengan digunakannya ikon angklung dan Gedung Sate tentunya akan semakin mendukung sektor pariwisata. “Selain memunculkan nilai budaya. Hal itu tentunya akan berdampak pula pada dunia pariwisata, karena semakin dikenal,” ujarnya Sementara mengenai perubahan uang kertas pecahan Rp 10.000, Darmin menjelaskan, perubahan tersebut dimaksudkan untuk mengoptimalkan fungsi elemen desain atau upgrading yang dilakukan terutama pada warna yang semula dominan ungu kemerahan menjadi ungu kebiruan. “Meski terdapat pula perubahan pada unsur pengamanan lainnya, elemen desain utama seperti bahan uang, gambar utama, dan ukuran uang tetap sama dan tidak mengalami perubahan,” ujarnya. Darmin menambahkan, uang kertas pecahan Rp 10.00o desain lama masih tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran oleh BI. Sementara itu, Wakil Presiden Boediono dalam sambutannya mengatakan, pemerintah daerah harus mampu menjaga kestabilan nilai mata uang. Salah satunya adalah dengan mengendalikan inflasi. Hal tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah, termasuk pemerintah daerah sebagai sumber dari inflasi nasional. Terkait dengan semakin dekatnya Lebaran, Boediono mengatakan, BI harus memperhatikan secara saksama peredaran uang baru tersebut. Apalagi, dikeluarkannya uang tersebut akan menjadi salah satu uang yang dicari oleh masyarakat. “Pengadaan mata uang dan peredarannya akan menjadi sorotan masyarakat. Oleh karena itu, harus dilakukan secara cepat, amanah, dan hasil optimal,” katanya. Stok Lebaran Sementara itu, disinggung mengenai ketersediaan uang menjelang Idulfitri yang identik dengan penukaran uang, Deputi Gubernur BI Bidang VII, S. Budi Rohadi memaparkan, diperkirakaan outflow (aliran) pada saat Lebaran akan mencapai Rp 49 triliun. Jumlah tersebut meningkat sekitar sepuluh persen dibandingkan dengan tahun lalu. Kendati demikian, Rohadi mengatakan, persediaan uang untuk menghadapi peningkatan tersebut masih mencukupi. Persediaan hingga Agustus telah mencapai Rp 126 triliun. “Persediaan yang ada lebih dari cukup,” katanya. Meskipun demikian, Rohadi mengimbau masyarakat untuk menghindari terjadinya antrean pada saat penukaran uang ketika menjelang Lebaran, masyarakat diharapkan untuk melakukan penukaran jauh sebelum hari H. “Sebaiknya menukar dari jauh-jauh hari, jangan H-3 atau H-5. Lebih baik sebulan sebelumnya,” katanya. (Yulistyne Kasumaningrum/”PR”)**/pD5FhWBilVg/s320/gedung+sate.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s