Rela Menghabiskan Malam Minggu demi Anak Jalanan

Posted: 06/17/2010 in Informasi

Tidak disangka Pak Menteri mau datang malammalam,” begitulah kalimat spontan yang terucap dari mulut Iqbal,25,seorang anak jalanan saat melihat kedatangan Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf al- Jufri pada Sabtu malam (15/5).

JARUM jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.Dinginnya malam yang sesekali diriingi laju kereta api di sepanjang rel di wilayah Pejompongan,Jakarta Pusat,tidak menjadi halangan bagi Salim untuk tetap bercengkerama dengan anak-anak jalanan. Layaknya kawan, Salim pun ikut ”nongkrong” dengan mereka di pinggir rel itu. Ngobrol pun dimulai

Mulai dari keluh kesah hingga canda menghiasi pembicaraan Mensos dengan sekitar 25 anak jalanan ini.Bagi anak jalanan seperti Iqbal, kunjungan Mensos merupakan sesuatu yang baru. Apalagi, hal itu dilakukan pada malam hari di mana biasanya para pejabat negara terlelap dalam mimpi indahnya. ”Sungguh kebanggaan kami bisa bertemu Pak Menteri, kami benar-benar tidak menyangka,” ungkap Iqbal. Momen yang jarang mereka temui ini pun dimanfaatkan dengan maksimal.Seperti Nining, gadis 18 tahun yang sebentar lagi lulus sekolah menengah kejuruan (SMK). Meski harus bekerja sebagai pengamen, Nining terbilang gadis yang bertekad kuat. Setiap hari, dia harus mencari nafkah sekaligus bersekolah.

Sayangnya, Nining saat ini dihadapkan pada persoalan administratif, yakni tidak memiliki akta kelahiran. Hal ini mempersulit Nining untuk dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. ”Saya tidak punya akta Pak Menteri, ditambah tidak ada biaya untuk meneruskan sekolah,” ungkap Nining kepada Mensos. Kasus Nining ini merupakan salah satu persoalan ringan yang harus dihadapi para anak jalanan. Masih banyak kasus berat yang harus dihadapi para kaum marginal ini seperti kasus kriminalitas dan pelecehan seksual. Mensos Salim Segaf mengaku prihatin dengan kondisi anak jalanan ini. Selain kondisi lingkungan yang tak layak, para anak jalanan ini juga tidak mendapatkan haknya sebagai anak.

Salim pun mengatakan,jumlah anak telantar di Indonesia yang usianya di bawah 18 tahun terus bertambah.Bahkan, kini jumlahnya telah mencapai 5,4 juta orang. ”Tingkat pertumbuhan anakanak telantar itu jelas tidak sehat karena tidak di rumah dan kurang mendapat perlindungan seperti akses belajar, kesehatan,” ungkap Salim tadi malam. Dari 5,4 juta anak telantar itu, ujarnya, sebanyak 232.000 di antaranya merupakan anak jalanan yang terbagi atas tiga kelompok, yakni kelompok anak-anak yang seluruh hidupnya di jalan, anak yang empat sampai lima jam di jalanan,dan anak yang mendekati jalanan. (nurul huda)

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/324603/

Komentar
  1. Herry Ir. mengatakan:

    Ini ne Menteri yg patut d’teladani…mau merasakan pnderitaan rkyatnya…

  2. sasabila .s mengatakan:

    pak aar blognya bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s