KETELADANAN MUROBBI DAKWAH ATHO BIN RABBAH

Posted: 12/27/2008 in Propile

Salah satu di antara mereka adalah Atho bin abi Rabaah Rahimahulloh, yang memimpin halaaqah besar di masjidil haram, dimana Sulaiman bin abdil malik yang menjadi Khalifah pada saat itu juga sering menghadiri halaqohnya, Athu bin abi Rabah adalah seorang habsyi (Negro) yang pernah menjadi budak dari salah seorang wanita penduduk kota mekkah, lalu ia dimerdekakan karena kepandaiannya dalam mendalami ajaran islam.

Keteladanan Atho bin Abi Rabah sebagai Murabbi adalah kelembutannya dan ketajaaman nasehatnya serta pandangan dan perhatianya yang penuh kasih sayang, sebagaimana yang dikisahkan oleh Muhammad bin suqoh Salah seorang Ulama Kufah , bahwa suatu ketika Atho bin abi rabah menasehatinya : “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita tidak menyukai pembicaraan yang berlebihan”, “lalu apa batasannnya pembicaran yang berlebihan”? tanyaku, beliau melanjutkan nasehatnya seraya beerkata : “Mereka mengkategorikan pembicaraan berlebih, bila dilaakukan selain dari Al-qur’an yang dibaca dan difahami, atau hadits Rosululloh yang diriwayatkan, atau berkenaan dengan amar ma’ruf nahi munkar, atau pembicaraan tentang satu hajat, kepentingan dan persoalan maisyah”, kemudian beliau mengarahkan paandangannya kepada ku seraya berkata : “Atunkruuna (Inna ‘alaikum laahaafidzhiin, kirooman kaatibiin) (Al-infithar : 10 – 11), wa anna m’a kullin (‘minkum malakaini Anil yamiini wa ‘anisshimaali Qa’iid, maa yalfidzhu min qaulin illaa laadaaihi raqiibun ‘atiid) ( Qaf : 17 – 18), Amaa yatahyii aahaduna lau nusyirat alaihi shahiifatuhullatii amlaa’aahaa shdra naahaarihi, faawaajada aktsara maa fiihaa laaisa min amri diinihi walaa amri dunyaahu”.

Kapabilitas takwiniyah Atha bin Abi rabah dalam mentarbiyah bukan hanya kepada kalangan pembesar dan terpelajar tapi sampai seorang tukang cukur, sebagaimana dikisahkan oleh Imam Abu hanifah : “Aku melakukan kesalahan dalam lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur, yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram, aku mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu aku berkata kepadaanya :”berapa harganya”?, “semoga Alloh menunjukimu, ibadah tidak mensaratkan soal harga, duduk sajalah dulu, soal harga gampang” jawab tukang cukur, waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia mengarahkan duduku hingga menghadap kiblat, kemudian menunjukan bagian kiri kepalaku, lalu ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan, ketika aku dicukur ia melihaatku diam saja, lalu ia menegurku : “Kenapa koq diam saja, ayo perbanyaklah takbir”, maka akupun bertakbir, setelah selesai aku hendak langsung pergi, lalu ia berkata : “mau kemana kamu”?, “aku mau ke kendaraanku” jawabku, tukang cukur itu mencegahku seraya berkata : “Shalat dulu dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka” , Aku berkata dalam hati, tidak mungkin tukang cukur bisa seperti ini kalu bukan dia orang alim, lalu aku berkata kepadanya : “Darimana engkau dapati mengenai bebrapa manasik yang kau perintahkan kepadaku’?, Demi alloh aku melihat Atha bin abi rabah mempratekan hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar kepadanya”, jawab tukang cukur alim tersebut.

Di antara kebiasaan baik ulama salafusshalih dan keteladanan mereka dalam mentarbiyah adalah ketika memberikan materi mereka tidak terkesan bersikap santai atau memberikannya sambil duduk bersandar misalnya, akan tetapi mereka menunjukan sikap yang sigap dan penuh semangat, sebagaimana telah menjadi sikap umum di kalangan mereka ketika menyampaikan materi, hal itu terungkap dari pernyataan salah seorang diantara mereka : “Laa yanbaghi lanaa idzaa dzukira fiinasshalihuna jalasnaa wa nahnu mustaniduuna” ( Tidaklah pantas bagi kita ketika disebutkan di tengah-tengah kita orang-orang yang shaleh, lalu kita duduk sambil bersandar ).

Adalah Said ibnul Musayyib rahimahulloh, juga seoarang murabbi yang keteladanannya patut dicontoh oleh para Murabbiyyiin, beliau memimpin halaqoh yang cukup besar di Masjid nabawi, di samping beliau juga terdapat halaqohnya ‘Urwah bin Zubair, dan abdulloh bin ‘Utbah rahimahumalloh, Said ibnul Musayyib mempunyai seorang mutarabbi, namanya Abu Wada’ah, suatu ketika Abu Wada’ah beberapa kali tidak datang halaqoh, tentu saja Said bin Musayyib merasa kehilangan mutarabbinya yang sudah mustawa qowy ini, beliau kahawatir kalau-kalau ketidakhadirannya lantaran sakit atau ada masalah yang menimpanya, lalu beliau juga bertanya kepada ikhwah yang lainnya juga tidak ada yang tahu, akan tetapi bebrapa hari kemudian tiba-tiba Abu Wada’ah, datang kembali sebagaimana biasa, maka sang Murabbi teladan said bin Musayyib segera menyambut kedatangannya dengan sapaan yang penuh perhatian seraya berkata : “kemana saja engkau ya, aba wada’ah”?, “Isteriku meninggal dunia, sehingga aku sibuk mengurusinya” jawab Abu wada’ah. “Mengapa tidak beritahu kami sehingga kami bisa menemanimu dan mengantarkan jenazah issterimu serta membantu segala keperluanmu” tanya Said kembali. “Jazaakallahu kahairan” jawab abu wada’ah yang terkesan memang sengaja tidak memberi tahu karena khwatir merepotkan murabbynya.

Tidak lama kemudian Said bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan membisikinya seraya berkata : “Apakah engkau belum terpikir untu mencari isteri yang baru ya Aba Wada’ah”, “Yarhamukalloh, siapa orangnya yaang mau mengawini anak perempunnya dengan pemuda macamku yang sejak kecil yatim, fakir dan hingga sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham” tandas Abu Wada’ah yang tampaknya ingin bersikap waqi’ terhadap keadaan dirinya, “aku yang akan mengawinimu dengan anak perempuanku” tegas said, seraya terbata-bata Abu Wada’ah berucap : “ Eng,…engkau akan mengawiniku dengan anak perempuanmu, padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku”, “Ya,…kenapa tidak, karena kami jika seudah kedataangan seseorang yang kami ridho terhadap agamanya dan akhlaknya maka kami kawinkan orang iyu, dan engkau termasuk orang yang kami ridhoi” jawab Said meyakinkan mutarabbinya. Lalu dipanggilnyalah ikhwah yang ada di halaqah tersebut untuk menyaksikan akad nikahnya dengan mahar sebanyak dua dirham, Abu Wada’ah benar-benar terkejut tak tahu harus berkata apa, antara kaget daan girang, ia pulang menuju rumahnya sampai-sampai ia lupa kalau hari itu ia sedang shaum, karena di tengah perjalaanan ia terus berfikir darimana ia akan menafkahkan isterinya, atau berhutang dengan siapa?, tak terasa ia sudah sampai di rumah dan adzan maghribpun tiba, lalu ia berbuka dengan sepotong roti, baru saja menikmati rotinya, tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu, “siapa yang mengetuk pintu”, tanyanya dari dalam rumah, “Said” jawab suara di balik pintu yang sepertinya ia mengenalinya, setelah dibukanya tiba-tiba sang murabbi sudah ada di hadapannya, Abu Wada’ah mengira telah terjadi “sesuatu” dengan pernikahannya, lalu ia langsung menyapa sang Murabbi seraya berkata : “Ya, aba Muhammad mengapa tidak kau untus sesorang memanggilku sehingga aku yang datang menemuimu”, “Tidak, engkau lebih berhak aku datangi hari ini”, setelah dipersilahkan masuk Said langsung mengutarakan maksud kedatangannya seraya berkata : “Sesungguhnya anak perempuanku telah sah menjadi isterimu sesuai dengan sari’at alloh SWT sejak tadi pagi, dan aku tahu tidak ada seorangpun yang menemanimu, menghiburmu dan melipu kesedihanmu, maka aku tidak ingin engaku bermalam pada hari ini disuatu tempat sedang isterimu masih berada di tempat lain, maka sekarang aku datang dengan anak perempuanku ke rumahmu” , lalu said menoleh kee arah puterinya seraya berkata : “masuklah engkau ke rumah suamimu wahai puteriku, dengan menyebut asma Alloh dan memohon barokahNYA”, masuklah anak perempuan said , dan ketika melangkahkan kakinya nyaris keserimpet (terinjak gaunnya) hampir jatuh hampir terpeleset karana saking malunya, “sedang aku juga cuma berdiri di hadapanya kaget campur bingung tak tahu harus berkata apa” kata Abu Wada’ah mengenang kejadian itu, tapi kemudian ia cepat-cepat mendahului isterinya ke dalam ruangan, lalu ia jauhkan cahaya lampu dari sepotong roti yang memang tinggal segitu-gitunya supaya tidak terlihat oleh isterinya. Baru setelah itu ia keluar rumah untuk mamanggil ibunya untuk menemui menantu barunya.

Itulah keteladanan Said bin Musayyib yang menolak pinangan Abdul malik bin Marwan Khalifah bani uamayyah yang ingin meminang putrinya, malah beliau segara meengawinkan putrinya dengan Abu Wada’ah mutarabbinya yang sederhana dan tidak diragukan lagi kualitas tarbiyahnya.

Subhanalloh,… ada ‘ngga ya, Murabbi seperti Said bin Musayyib rahimahulloh di zaman sekarang ini?, kalau ada alhamdulillah, kalau belum ada mudah-mudahaan selepas dauroh murabbi ini ada yaang berusaha meneladaninya. Amin Ya robbal alamin.

Lain lagi kisahnya dengan Imam abu hanifah, atau dikenal dengan nama Nu’man bin Tsabit rahimahulloh, beliau seorang murabbi yang wajahnya selalu enak dipandang, berseri-seri, dalam penegtahuannya, manis tuturkatanya, rapih penampilannya, dan selalu memakai wangi-wangian, jika beliau datang ke majlisnya, maka semua orang yang ada disitu sudah mengetahuinya sebelum mereka melihatnya lantaran semerbak wewangian yang dipakainya.

Di samping cerdas, alim, faqih, beliau juga dikenal sebagai Murabbi yang dermawan, karena beliau juga dikenal sebagaai seoarang saudagar, tepatnya sebagai pedagang pakaian, kain dan sutera, beliau berkeliling dari kota satu ke kota lainnya di wilayah irak.

Suatu ketika salah seorang muridnya datang ketempat jualannya, ia minta dicarikan baju, lalu beliau mencarinya, sesuai dengan warna yang dimintanya lalu diberikan kepadanya, “berapa harganya ?”, tanya sang murid, “sedirham” jawab Imam, “satu dirham” tegas sang murid lagi penasaran dan campur heran kok murah banget, “ya, segitu”, tegasnya lagi, “yang bener nih…” kata muridnya lagi, “Aku tidak main-main, aku beli baju ini dan yang serupa lagi dengannya seharga dua puluh dinar emas dan satu dirham perak, yang satu aku sudah aku jual, sedang yang siasanya ini aku jual kepadamu dengan harga sedirham, aku memang tidak mau mangambil untung terhadap murid-muridku”.

Suatu ketika Imam abu hanifah melahat salah seorang mutarabbinya berpakaian lusuh sehingga terkesan tidak enak dipandang, setelah yang lainnya keluar dari majlis, sehingga tidak ada seorangpun di dalam majlis itu selain Imam abu hanifah dengan mutarabbinya tersebut, lalu beliau berkata kepadanya, “angkatlah sajadah ini lalu ambil sesuatu yang ada di bawahnya”, setelah diambilnya ternyata uang sebanyak seribu dirham, “ambilah uang itu dan perbaikilah penampilanmu’ tegas imam abu Hanifah, lalu kata orang itu : “Aku sudah cukup, Alloh telah melimpahkan nikmatnya kepadaku, aku tidak membutuhkan uang ini”. Dengan cerdasnya imam abu hanifah menyanggah omongan mutarabbinya itu : “Jika memang benar-benar telah melimpahkan ni’matnya kepadamu, lalu mana bukti kenikmatanNYA itu, bukankah rosululloh SAW bersabda : “Innalloha yuhibbu an yaraa aaatsara ni’matihi ‘ala ‘abdihi” (sesungguhnya alloh SWT senang melihat bukti keni;matannya pada hambanya), karena itu sudah sepantasnya engkaumemperbaiki keadaanmu agar engkau tidak membuat sedih saudaramu”.

Itulah beberapa keteladan Ulama Salafussalih dalm mentarbiyah para mutarabbinya, Wallohu ‘alamu bisshawaab.

Sumber : http://www.perisaidakwah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s