Belajar Dari Majelis Rasulullah Saw

Posted: 12/12/2007 in Tausyiah
Umar ra. Berkata : Ketika kami tengah berada di majelis rasulullah Saw. Pada suatu hari, tiba-tiba tampaklah dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu duduklah dihadapan Rasulullah Saw., kemudian menyandarkan lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan tangannya diatas paha Nabi. Selanjutnya ia berkata, “ Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam!” Rasulullah saw menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, engkau mendirikan Shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata, “Engkau benar.” Kamipun heran ia bertanya lalu membenarkan.

Orang itu berkata lagi,”Beritahukan kepadaku tentang iman!” Nabi Saw menjawab, “engkau beriman kepada Allah, kepada MalaikatNya, kepada kitab-kitabNYa, kepada utusan-utusanNya, kepada hari kiamat, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Berkatalah orang tadi, “Engkau benar.”
Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Ihsan!” Nabi Saw berkata, “Engkau beribadah kepada Allah, seakan-akan engkau melihatNya. Jika Engkau tidak melihatNya, sesungguhnya di pasti melihatmu.”
Orang tadi berkata lagi, “Beritahukan kepada ku tentang kiamat.” Nabi Saw menjawab, “Orang yang ditanya tentang itu tida lebih tahu daripada yang bertanya.”
Selanjutnya orang itu berkata lagi, “beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Nabi Saw menjawab,”Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan putrinya; jika engkau melihat orang-orang yang tak beralas kaki, tak berbaju, miskin dan penggembala kambing berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”
Kemudian pergilah ia. Beberapa saat kemudian Nabi berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya itu?” saya menjawab, “Allah dan RAsulNya lebih mengetahui.” Nabi Berkata, “Dia adalah Jibril. Ia dating kepadamu untuk mengajarkan kepadamu agamamu.” (HR. Imam Muslim)
Hadist yang dalam kumpulan kitab hadist Arbain ini berada di urutan kedua ini, tidak hanya mengajarkan kepada kita tentang definisi Islam, Iman, Ihsan dan sebagian dari tanda-tanda kiamat. Tetapi kalau kita teliti dan jeli, ternyata ada hikmah / pelajaran lain yang bisa diambil dari hadist tersebut. Salah satunya adalah bagaimana bermajelis ria dengan Rasulullah Saw. Sehingga para sahabat rela dating dari jauh dan dalam waktu yang lama kuat berenang dan tenggelam di dalam majelisnya.
Diantara yang bisa kita temukan suasana majelis Rasulullah Saw yang tergambar dari hadist tersebut diantaranya :
Pertama, dalam hadist tersebut disebutkan “tampaklah dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan” kata-kata ini mengajarkan kepada kita jika kita menghadiri suatu majelis dianjurkan berpakaian bersih, rapid an memakai wewangian. Kenapa memakai wewangian karena dalam teks hadist disenutkan “tidak ada bekas perjalanan” soalnya kalau habis melakukan perjalanan pasti berdebu/kotor dan bau keringat. Hal seperti ini juga dianjurkan oleh Nabi Saw pada hadist yang lainnya jika hendak kemesjid dianjurkan memakai wewangian dengan tujuan supaya tidak menggangu saudara kita yang lain akibat dari bau badan kita.
Kedua, dalam hadist tersebut dituliskan “duduklah dihadapan Rasulullah Saw., kemudian menyandarkan lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan tangannya diatas paha Nabi.”. hal ini memberikan pelajaran kepada kita, supaya dalam majelis itu harus duduk rapid an rapat sehingga jika kita duduk bersila ujung lutut kita saling bersentungan dengan saudara kita yang ada disisi kiri dan kanan kita. Dengan sentuhan ini akan memberikan suasana yang lebih akrab, erat penuh kehangatan sehingga menimbulkan ukhuwah yang luar biasa. Sebagaimana yang sudah dicontohkan Nabi Saw ketika shalat berjamaah telapak kaki bagian samping harus bersentuhan dengan bagian samping telapak kaki saudara kita yang ada disisi kiri dan kanan kita. Pada kesempatan lain juga Rasulullah Saw mencontohkan ketika berjabat tangan tidak pernah melepaskan lebih dulu sebelum orang yang berjabat tangan dengan Nabi Saw melepaskannya. Mungkin bersentuhan inilah yang akan memberikan suasana yang lebih akrab, erat penuh kehangatan sehingga menimbulkan ukhuwah yang luar biasa.
Ketiga, dalam hadist tersebut kita melihat ada percakapan / dialog, ternyata Rasulullah Saw dalam memberikan jawaban begitu tegas, jelas, tidak perlu ngalor ngidul tapi langsung pada pokok bahasan. Ioni pelajaran bagi kita / para ulama/ustadz apabila kita dalammemberikan jawaban langsung pada pokok bahasan. Mau ngalor ngidul juga gak apa-apa kalau hanya untuk membuka jalan pikiran si penanya atau sekedar tambahan wawasan bagi si penanya/pendengar tapi tetap pertanyaannya terjawab dengan dengan jelas dan tidak membingungkan si penanya. Yang parah jawaban ngalor ngidul ….pertanyaan tidak terjawab bahkan menambah bingung penanya/pendengar. Saya bilang begini karena suka ada yang menjawab seperti ini.
Keempat, dalam hadist ini ketika Rasulullah menjawab ada jawaban diplomasi “Orang yang ditanya tentang itu tida lebih tahu daripada yang bertanya.” Ini mengajarkan kepada kita, agar kita berani mengatakan tidak tahu apabila memang kita tidak tahu atau belum jawabannya. Hal ini tidak akan mengurangi kredibelitas, justru sebaliknya kehormatan kita akan tetap terjaga. Dari pada kita so tahu menjawab ngalor ngidul karena ingin dibilang serba bisa atau gengsi, mendingan jawaban inu benar bagaimana kalau salah, berarti secara tidak langsung kita telah memberikan informasi palsu/kebohongan yang lebih parah bisa-bisa jawaban kita menyesatkan. Naudzubillah.. jadi kalau level Rasulullah Saw. Saja berani mengatakan tidak tahu, bagai mana dengan kita?.
Yang terakhir, apabila kita menghadiri sebuah majelis kita boleh bertanya tentang sesuatu, yang sebenarnya kita sudah tahu jawabannya. Tentunya ini tidak dimaksudkan untuk menguji wawasan yang di Tanya,melainkan untuk memberikan pengajaran kepada jamaah yang lain kalau-kalau dan bisa jadi orang lain yang hadir belum tahu jawabannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh malaikat Jibril dalam hadist diatas, yang bertanya kepada Rasulullah Saw. Bukan dia tidak tahu tentang apa yang ditanyakannya, melainkan untuk memberikan pelajaran kepada yang hadir dalam majelis Rasulullah Saw. Itu.
Inilah sdikit pelajaran yang bisa diambil dari hadist tersebut diatas, mudah-mudahan setelah kita tahu sedikit gambaran tentang suasana Majelis Rasulullah Saw., mari kita mencoba untuk melaksanakannya. Sehingga tercipta suasana majelis yang menyenangkan penuh keakraban dan kehangatan tanpa ada arogansi seseorang sehingga membuat kita betah dan senang berlama-lama berenang dan tenggelam dalam mejelis ilmu. Ingat karena dengan ilmulah kita akan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat. Sebagaimana yang Rasulullah Saw. “Segala sesuatu ada jalannya adapun jalan ke surga ialah Ilmu.” Wallahu’alam.

Komentar
  1. Yudha Y mengatakan:

    Nice Article:) ..menjadi iman sepertinya mudah .. tapi ketika memasuki level ‘ihsan’.wow sungguh berat untuk istiqomah!..jangan lupa halaman tulisannya untuk di ‘justify’ saja biar rapi

  2. BUDI mengatakan:

    BAGUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s