berbagai kelompok yg juz’i/parsial dalam memahami aqidah Islam

Posted: 10/27/2007 in Informasi

Pada kesempatan ini ana ingin menyampaikan kuliah bersambung yg ditulis oleh saudara seaqidah ane Akh Nabiel Fuad Almusawa walaupun ane gak pernah ketemu dengan akh nabiel. Tapi mudah-mudahan Allah selalu merahmati kita semua tulisan ini dapatkan dari ust DR Hidayat Nurwahid, MA tentang al-manhajul juz’i fi fahmi aqidah (berbagai kelompok yg juz’i/parsial dalam memahami aqidah Islam), semoga bermanfaat.

 

 

(Kuliah ke-1)

 

ALIRAN-ALIRAN  YANG  PARSIAL  DALAM  MEMAHAMI  AQIDAH  :  SEBAGIAN  ALIRAN  TASAWWUF

 

 

SEJARAH  TASAWWUF       :

 

1.   Asal Kata :  Tdk ada dlm al-Qur’an dan as-Sunnah, jk disandarkan pd ahlu Shuffah mk asal katanya Shufiy (bukan Shuufiy), jk dari ash-Shafwah mk asalnya Shafwiy, jk dari ash-Shaf mk asal katanya Shaffiy, mk para ulama bahasa sepakat ia berasal dari kata Ash-Shuuf (pakaian dr bulu domba yg biasa dipakai oleh org miskin).

 

2.   Asal Daerah  :  Mnrt Ibnu Taimiyyah penyebutan istilah ini pertama kali pd Abdul Wahid bin Zaid (murid Hasan al-Bashri) dari Bashrah. Kota ini tempat pertemuan berbagai budaya Timur (Islam, Persia, Hindu, Konfusian) dan Barat (Yunani, Romawi, Kristen), juga tempat tjdnya berbagai krisis idiologi (Khawarij dan Syi’ah), juga jauh dr pusat Islam (Mekkah & Madinah) shg tjd sinkretisme antar berbagai idiologi dan induk bdy tsb.

 

3.   Penyimpangan Tasawwuf : Mulai tjdnya penyimpangan mrk adalah sejak stlh abad ke-5 dan 6-H (abad 12 dan 13-M), yaitu saat runtuhnya daulah Abbasiyyah, diantaranya adalah kesalahan Rabi’ah al-Adawiyyah ttg manhaj al-Hubb (memahami cinta), shg ia menegur seorg ibu yg memeluk dan mencium anaknya dg kata2 : Msh sempatkah anda mencintai selain Allah ? Pdhal Nabi SAW yg plg cinta dan dicintai Allah juga memeluk dan menciumi cucu2nya. Ia (Rabi’ah) juga berdo’a agar rahmat Allah di dunia untuknya diberikan pd org kafir saja dan rahmat Allah di akhirat untuknya diberikan pd muslimin, sementara baginya cukup Allah saja. Hal inipun salah juga karena Nabi SAW meminta rahmat di dunia dan akhirat, bahkan Allah SWT memerintahkan tiap muslimin untk meminta rahmat-Nya di dunia dan di akhirat dlm al-Qur’an (Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah …). Penyimpangan yg berat tjd dikalangan sufi pasca abad ke-5 H, melalui faham hulul oleh al-Hallaj yg berani menyatakan : Aku adalah Allah, karena berdalil dg QS 32:9. Kemudian diikuti oleh Ibnu Arabi dg fahamnya wuhdatul wujud dan wihdatul adyan.

 

 

ALIRAN-ALIRAN  TASAWWUF                  :

 

1.   Sufi Pemikiran  :  Lbh mementingkan ide2, tk kesempurnaan manusia mnrtnya dibagi 4 (syari’at, thariqat, ma’rifat dan haqiqat), shg jk sdh sampai hakikat mk tdk butuh lagi syari’at. M Iqbal dlm bukunya Tajdid fi fikril Islami menyitir pendpt seorg tokoh sufi ini Abdul Quddus yg mengomentari ttg Mi’raj nabi Muhammad SAW : “Seandainya aku yg menjadi Nabi SAW dan bertemu Allah SWT saat Mi’raj mk aku takkan kembali lagi. Inilah bedanya sufi dg nabi, kalau nabi maka kebaikan yg didapatnya akan diberikannya sebanyak2nya kepada org lain.

 

2.   Sufi Faqir  :  Lbh senang dg kemiskinan, pakaian kumal dan malas berusaha. Klp ini banyak dipengaruhi oleh para Bhiksu India dg ajarannya samsara, menyiksa diri dan meminta2 serta berkeliling dg binatang2 kotor.

 

3.   Sufi Filsafat  : 

a.    Melihat Islam dr sisi lafzhiyyah saja, spt shalat diartikan dzikir saja, Islam diartikan pasrah pd kebenaran dari yg Maha Benar, La ilaha Illallah diartikan Tiada tuhan selain Tuhan (t-besar dan t-kecil), dan jk mrk menemukan kata yg tdk dpt diselewengkan artinya mk diartikan sbg simbol saja (spt kewajiban berjilbab, berjenggot, dsb).

b.    Aliran Kesatuan Agama2 (Wihdatul Adyan) di era modern klp ini dimotori oleh Prof. Fazlurrahman (Afzalurrahman) yg diusir dr Pakistan sb berani menyatakan bhw seorg muslim juga seorg Kristen dan sebaliknya (kini mengajar di Univ. Chicago).

c.    Aliran Kesatuan Hamba dg Pencipta (Hulul dan Wihdatul Wujud), klp hulul tokohnya adalah Abu Mughits bin Manshur al-Hallaj yg digantung oleh Khilafah Abbasiyyah karena menjadi mata2 dinasti Fathimiyyah (syi’ah); sementara klp wihdatul wujud  tokohnya ialah Ibnu Arabiy.

 

4.   Sufi Hakiki  : Yaitu sufi sejati yg sangat berpegang teguh pd al-Qur’an dan as-Sunnah serta manhaj-salaf, mrk mayoritas ada sblm abad ke-5 Hijrah, diantara tokoh2nya ialah :

a.    Abdul Qadir al-Jilani, sufi-mujahid yg mengislamkan ratusan ribu org di India dan membai’at  ribuan org untk berperang melawan penjajah, diantara bukunya yg terbaik ialah al-Ghunyah li Thalibi Thariqatil Haq.

b.    Abul Qasim al-Junaid al-Baghdadi, perkataannya pd para salikin yg baru ialah : Ilmu Tasawwuf kami didasarkan atas disiplin pd al-Qur’an dan as-Sunnah, mk barangsiapa yg tdk menguasai al-Qur’an dan tdk pandai menulis hadits2 nabi dan tdk faqih ttg al-Islam mk jangan kalian dengar pendapatnya.

c.    Abu Hamid Muhammad al-Ghazaliy, diantara kata2nya kepd para murid2nya ialah : Jk kalian melihat seorg yg dpt terbang diudara atau berjalan diatas air maka jangan kalian terpesona padanya sblm kalian melihatnya mampu berdiri tegak melaksanakan syari’ah.

 

 

 

PENDAPAT  ULAMA  ISLAM  TENTANG  TASAWWUF     :

  1. Membenci, yaitu yg bersikap sangat keras pd aliran tasawwuf, shg mrk menyebutnya sbg ahli bid’ah yg sesat dan menyimpang dr syari’at. Diantara tokoh klp ini adalah Imam Abubakar al-Jazairi yg menyatakan : Tasawwuf adalah anak haram, karena tdk ada asalnya baik dlm al-Qur’an maupun as-Sunnah, mk mrk adalah klp ahli bid’ah yg meninggalkan sunnah.
  2. Memuji, yaitu yg memuji dan menyanjung tasawwuf, shg mrk mengatakan ttg tasawwuf sbg : Mrk adalah makhluk Allah yg paling mulia dan utama dibumi ini setelah para nabi as.
  3. Adil dan moderat, yaitu klp yg menilai mrk dg menggunakan standar al-Qur’an dan as-Sunnah serta manhaj salaf yg shalih. Jk mrk menyimpang dr ketiganya mk tdk segan2 untuk ditegur dan diluruskan dan jk benar mk didukung. Ibnu Taimiyyah misalnya mengatakan : Mrk adalah org yg berijtihad ttg cara bertaqwa kepd Allah SWT, shg mrk bisa salah dan bisa benar.

  

MARAJI’       :

 

1.   Abdul Kariim al-Qusyairiy,  Risalatul Qusyairiyyah fii Ilmit Tashawwuf.  Daar al-Khaiir.

2.   Abdullah bin Alwi al-Haddad,  Adaab Suluuk al-Muriid.  Mathba’ah al-Bayaan al-Arabiyy.

3.   Ibnul Jauziy, Talbiisu Ibliis, Daar al-Fikr, Bairut.

4.   Ibnu Qudaamah al-Maqdisiy,  Mukhtashaar Minhaaj al-Qaasidiin.  Daar al-Fikr.

5.   Lain-lain

 

 

Allahumma aínni ála dzikrika, wa syukrika, wa husni íbadatika …



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kuliah ke-2 :

 

KELOMPOK-KELOMPOK  YG  PARSIAL  DLM  MEMAHAMI  AQIDAH  YG  MENGANDALKAN  PENAMPILAN  DAN  TINGKAH-LAKU  :  ALIRAN  KHAWARIJ

(AL-MANHAJUL JUZ’I FI FAHMI AQIDAH FI MAZHAHIR)

 

Oleh : DR. M. Hidayat Nurwahid, MA.

 

“Kami dulu diturunkan keimanan sblm turunnya al-Qur’an, sehingga saat turun al-Qur’an kami mengimani semuanya, sementara ada kaum yang diturunkan Qur’an sebelum diturunkan keimanan dalam hati mereka, maka mereka membaca dari Alif Lam Mim sampai Minal Jinnati wan Nas, tapi tidak tahu mana perintah mana larangan, mana yang halal mana yang haram” 

(HR al-Hakim)

 

Kesaksian Ibnu Abbas ra ttg mereka : “Pakaian mereka kasar & berserat, mukanya pucat, keningnya menghitam seperti lutut kambing tapak tangan & kakinya keras, bacaan Qur’annya sangat lama”

 

 

DEFINISI        :

Para ulama menyebutkan bahwa mereka disebut khawarij (berasal dari kata kerja kharaja-yakhruju yang berarti keluar) karena mereka keluar dari pasukan Ali ra, mereka sering juga disebut Haruriyyah karena asal daerah mereka yaitu dari daerah Haruri, mereka disebut juga Muhkamah karena menggugat tahkim Ali ra.

 

SEJARAH  KHAWARIJ         :

M    Berkata Ibnu Taimiyyah :  “Yang pertama kali melakukan bid’ah penampilan dalam Islam adalah orang2 Khawarij.”  (Majmu’ al-Fatawa libni Taimiyyah).

M    Secara perorangan mereka sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi SAW, dari hadits Abu Sa’id ra : Setelah perang Hunain, Nabi SAW membagi ghanimah lebih banyak kepada pembesar2 Quraisy seperti al-Aqra’ bin Habits, ‘Uyainah, dll. Maka berkatalah seseorang : Demi Allah pembagian ini tidak adil & tidak mengharap ridha Allah…” (HR Muslim)

M    Sejarah mereka kemudian timbul kembali dimasa Umar ra, yaitu dengan berhasilnya mereka membunuh Khalifah Umar ra, yaitu oleh Abu Lu’lu (seorang Khawarij).

M    Secara kelompok mereka baru mulai berkembang pada masa Utsman ra (dalam Tarikh at-Thabari & Ibnu Katsir), bahwa merekalah yang memimpin persekongkolan untuk membunuh Khalifah Utsman ra (dibawah hasutan Ibnu Saba’).

M    Memuncaknya mereka yaitu dimasa Ali ra, saat perang Shiffin, saat Ali ra hampir menang mereka minta tahkim pada Kitabullah, saat Ali ra menuruti keinginan mereka & ingin mengutus Ibnu Abbas ra untuk wakil dalam tahkim tersebut mereka menolak dan meminta Abu Musa ra untuk hal tsb, akhirnya Abu Musa ra kalah berdebat dengan Amr bin Ash ra (wakil dari kelompok Mu’awiyah ra) maka mereka (kaum Khawarij) tiba2 mengkafirkan Ali ra & 12.000 orang mereka keluar dari pasukan Ali ra. Dan di akhir pemerintahan Khalifah Ali ra merekalah yang akhirnya menghasut Abdurrahman Ibnu Muljam untuk membunuh Ali ra.

M    Tokoh2 mereka dimasa Ali ra diantaranya adalah : Al-Asy’at bin Qais, Mas’ud al Fadaki, Ibnul Kawa’(yang pertama kali keluar dari pasukan Ali ra), dll.

 

DALIL2  SUNNAH  TENTANG  KHAWARIJ            :

1.     Pada suatu peperangan, Nabi SAW lebih banyak membagi ghanimah kepada sekelompok orang, maka berkatalah seseorang : “Hai Muhammad ittaqullah ! Maka berkatalah Umar ra : Ya Rasulullah ! Biar saya tebas leher orang ini !  Jawab Nabi SAW : Biarkan ia, kelak dari keturunannya akan lahir suatu kaum yang bacaan Al-Qur’an mereka hanya sampai ditenggorokan, mereka membunuh orang Islam & membiarkan orang musyrik, mereka lepas dari Islam seperti panah dari busurnya.” (HR Muttafaq ‘alaih)

2.     “Akan keluar dari ummatku nanti kaum yang muda usia & bodoh, mereka berkata dengan kata2 kita, mereka membaca Al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka & mereka keluar dari Islam seperti panah dari busurnya.” (HR Muttafaq ‘alaih)

3.     “ … mereka akan keluar terus, sampai yang terakhir akan keluar bersama Dajjal …” (HR An-Nasa’I & al-Hakim)

4.     “… mereka bagus dalam bicara tapi jelek dalam amalnya, mereka mengajak kepada al-Qur’an tapi sedikitpun mereka tidak melaksanakannya.” (HR al-Hakim)

 

SIFAT2  KHAWARIJ  MENURUT  AS-SUNNAH  &  TARIKH  YANG  PERLU DIWASPADAI        :

1.     Mudah mencela & mengkafirkan orang lain : Mereka berani mencela Nabi SAW, mengkafirkan Utsman & Ali ra & mengkafirkan orang2 yang berdosa besar. Sehingga hendaknya kita mewaspadai sikap mudah mencela dan mengkafirkan orang atau kelompok lain ini seperti yang dilakukan oleh berbagai kelompok neo-khawarij belakangan ini, karena demikianlah sifat mereka.

2.     Berburuk sangka pada muslimin : Sifat mudah ber-su-uzhan kepada kelompok muslim lain. Sifat inipun sekarang mulai menghinggapi sebagian kelompok kaum muslimin kontemporer, sehingga dengan mudahnya memberi level kepada kelompok diluar kelompoknya sebagai sesat, kafir, ahlul bid’ah bahkan termasuk kepada orang yg sudah wafat seperti Sayyid Quthb, Hasan al-Banna, dll-pun mereka fasikkan walaupun tanpa adanya bukti2 yang kuat.

3.     Keras pada muslimin tapi berhati2 pada orang kafir : Pada peristiwa Khabbab Ibnul Arts ra yang mereka bunuh karena mengaku sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW, sementara Washil bin Atha’ (seorang Mu’tazilah mereka biarkan karena mengaku seorang kafir). Pada sebagian kelompok saat ini ada yang demikian rajin memusuhi dan mencaci maki kelompok kaum muslimin yang lain dalam tulisan2 mereka, sementara mereka membiarkan dan bahkan berdamai dengan kaum kafirin dan musyrikin yang memusuhi dan jelas2 memerangi Islam.

4.     Sedikitnya ilmu mereka : Simak saja perdebatan mereka dengan Imam Ali ra : Kenapa anda bertahkim ? Ali ra membaca QS 4/35 lalu menjawab : Kalau dalam mslh keluarga saja boleh tahkim apalagi dalam mslh Khilafah ! Kata mereka : Kenapa dalam perang Jamal anda tidak mengambil mereka sbg budak ? Jawab Ali ra : Tidak halal memperbudak kaum muslimin. Kata mereka : Kenapa saat perjanjian anda tidak gunakan kata Amirul Mu’minin ? Jawab Ali ra : Orang yang lebih baik dari saya (Nabi SAW) pernah tidak menggunakan kata Rasulullah saat perjanjian Hudhaibiyyah. Kata mereka : Kenapa anda pindahkan hak anda pada orang lain saat Tahkim ? Jawab Ali ra : Kekasihku Rasulullah SAW pernah memberikan hak keputusan pada Sa’ad bin Mu’adz ra saat peristiwa bani Quraizhah, tapi keputusan beliau SAW ditaati, sementara keputusanku kalian dustakan. Maka sebagian mereka berkata : Demi Allah dia (Ali ra) benar & kita hrs bertaubat ! Maka bertaubatlah 8000 orang dari mereka sedang sisanya 4000 orang diperangi oleh Ali ra dengan 4000 pasukannya, kt Ali ra : Demi Allah ! Aku mendengar dari kekasihku Rasulullah SAW bhw pasukan yang terbunuh diantara kita hanya 9 orang dan mereka yang tertinggal (tidak terbunuh) hanya 9 orang saja !  Pada kelompok neo-khawarij (Khawarij modern) juga terdapat ciri yang sama, mudahnya mereka mengkafirkan kelompok di luar kelompok mereka, tanpa tahu secara mendalam tentang kelompok yang mereka kafirkan tersebut (karena mereka tidak pernah membaca ttg kelompok diluar mereka tsb, kecuali berdasarkan fatwa guru2 mereka saja). Dan mereka dipimpin oleh orang2 yang memang bukan ahli syari’ah, melainkan hanya sebagian orang yang masih baru belajar ilmu syari’ah dan sama sekali belum memenuhi syarat untuk berfatwa.

5.     Meremehkan orang lain & merasa diri paling benar : Mereka kagum pada pendapat sendiri & menafsirkan Q & S dengan pikiran mereka dengan menolak untuk mengambil pendpt para imam salafus shalih.  Pada jenis neo-khawarij saat ini, pendapat salafus-shalih ini dimonopoli oleh mereka sendiri, orang2 yg mengaku sebagai SALAFI ini seolah2 hanya mereka saja yang menjadi representasi dari salaf dengan penafsiran mereka, mereka lupa bahwa dalam syari’at dari masa salaf sampai sekarang tetap ada perbedaan pendapat yang tidak dapat disatukan dalam masalah furu’ syari’ah, sampai2 Imam Malik rahimahullah menolak ketika kitabnya al-Muwaththa ingin dijadikan referensi induk oleh Khalifah dengan mengatakan : “Wahai amirul mukminin, sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW telah berpencar ke berbagai pelosok dengan pendapatnya masing2, maka bagaimana mungkin engkau akan memaksa kaum muslimin untuk hanya mengikuti satu pendapat ?!”

 

BAGAIMANA  JIKA  TERPAKSA  BERDEBAT  DENGAN  MEREKA :

1.     Pilih orang yang memiliki kefahaman syari’ah untuk berdiskusi dengan mereka :

M    Ibnu Abbas ra sengaja mendatangi mereka dengan pakaian yang indah, lalu mereka mencibir lalu kata Ibnu Abbas : “Katakanlah siapa yang mengharamakaan perhiasan yang indah2 …” (QS 7/32)

M    Umar bin Abdul ‘Aziz ra pernah berdiskusi dengan mereka lalu diminta oleh mereka untk melaknat leluhurnya (Bani Umayyah) maka jawab Ibnu Abdul ‘Aziz ra : Coba sebutkan dalilnya kita harus melaknat Fir’aun jika ada ?! Jawab mereka : Tidak ada ! Maka kata Ibnu Abdul Aziz : Kalau demikian apalagi terhadap orang yang lebih baik dari Fir’aun !

2.     Berhati2 pada sifat seperti mereka. Hendaknya kita merenungkan pendapat Imam Syafi’i rahimahullah ketika berkata : Ra’yii shawab walakin yahtamilul khatha’, wa ra’yu ghairii khatha’ walakin yahtamilush shawab (Pendapatku benar tapi mengandung kesalahan, sementara pendapat orang lain salah tapi tetap mengandung kebenaran). Kalau beliau saja yang demikian luas ilmunya demikian menghargai pendapat orang lain, maka bagaimana pula dengan kita ?!

3.     Pilihlah dialog dengan cara yang terbaik. Jelaskan bahwa benar pendapat salaf itu merupakan kewajiban semua kaum muslimin untuk mengikutinya, karena jika tidak maka mereka akan sesat, tetapi adalah na’if jika menganggap bahwa yang berhak menafsirkan salaf itu hanya monopoli suatu kelompok saja, lalu memvonis kelompok lain sebagai sesat dan menyimpang.  Diperlukan diskusi mendalam diantara berbagai kelompok kaum muslimin untuk mendekatkan diantara berbagai pemikiran yang berkembang yang ingin kembali kepada pemikiran salafus shalih.

4.     Belajar Islam dengan pemahaman yang mendalam. Hendaknya kita mempelajari Islam secara mendalam, sehingga diakui secara ilmiah kepakaran kita dan kita memiliki wawasan ilmu keislaman yang luas, terutama dalam aspek Fiqh al-Ikhtilaf dan Muqarranat al-Madzahib.

 


“Aku tidak mengetahui ni’mat mana yg lebih besar yg dikaruniakan Allah padaku: Apakah ni’mat pemahaman Islam yg mendalam ini atau ni’mat dijauhkan dari bid’ah”  (Ibnu Taimiyyah)

 KELOMPOK-KELOMPOK  YANG  PARSIAL  DALAM  MEMAHAMI  AQIDAH  YG  MENGANDALKAN  PERASAAN  DAN  EMOSIONAL  :  ALIRAN  SYI’AH

(AL-MANHAJUL  JUZ’I  FI  FAHMIL  AQIDAH  FI  SYU’UR : ASY-SYI’AH)

 

Oleh  :  DR. M. Hidayat Nurwahid, MA.

 

 

DEFINISI        :

 

Syi’ah secara bahasa sebenarnya berarti pendukung, penolong, teman dekat (QS 37/83 dan 28/18), istilah ini pada masa-masa pasca periode para shahabat ra digunakan oleh orang2 rawafidh (kelompok yang menolak kepemimpinan Abubakar ra dan Umar ra) sbg nama bagi kelompok mereka.

 

DALIL2  SUNNAH  DAN  SEJARAH  TENTANG  SYI’AH             :

 

1.     Bahwa setelah perang Shiffin, Ibnu Abbas ra berdialog dengan Muawiyyah ra dan ditanya oleh Muawiyyah ra : “Dari syi’ah (pendukung) kelompok mana anda ? Dari syi’ah Utsman atau dari syi’ah Ali ?” Jawab Ibnu Abbas ra : “Saya dari syi’ah Rasulullah SAW”. (HR Abu Nu’aim dalam al-Hilyah)

 

2.     Sa’id bin Hatim ra bertanya tentang witirnya Nabi SAW pada Ibnu Abbas ra, maka jawab Ibnu Abbas ra : “Maukah anda aku kabarkan orang yang paling tahu tentang witirnya Nabi SAW ? Kujawab : Ya!”  Maka kata Ibnu Abbas ra : “Tanya pada A’isyah !” Lalu aku minta tolong tanyakan melalui Hukaim bin ‘Aflah ra sebab aku pada waktu itu termasuk syi’ah Ali ra … (dst dalam hadits yang panjang).

 

3.     Pada abad ke-2 dan 3 hijrah istilah syi’ah juga digunakan. Dalam tarikh, khalifah Ibnu Khayyan saat mengomentari keruntuhan khalifah sblmnya mengatakan : “Inilah akibat syi’ah-nya Marwan bin Muhammad.”

 

Dari beberapa hadits diatas, jelas bahwa makna syi’ah artinya pendukung, penolong atau teman dekat secara umum, bukan menunjuk secara khusus kepada sebuah kelompok/aliran tertentu.

 

PARSIALNYA  MANHAJ  SYI’AH      :

 

M    Yaitu dalam syu’ur (emosi), karena mereka selalu berusaha mengangkat emosi ummat melalui perantaraan ahlu bait Nabi SAW. Tapi cinta mereka parsial, karena ahlu bait mereka batasi hanya pada Ali ra dan keluarganya saja, sementara A’isyah ra mereka caci-maki (padahal beliau ra adalah salah seorang istri Rasulullah SAW).

 

M    Makna ahlu bait dalam al-Qur’an ternyata berarti : Suami dan istri (QS 11/73), ibu dan bapak (QS 28/12), isteri2 (QS 33/33).

 

M    Kelompok syi’ah mengartikan bahwa QS 33/33 itu yang dimaksud Ali ra saja, karena menggunakan dhamir “’alaikum”, hal ini dijawab bahwa kum juga mencakup lelaki dan wanita sbgm dalam lafadz salam (assalamu ‘alaikum), apalagi dalam awal ayat QS 33/33 itu bicara tentang istri nabi SAW.

 

PARSIAL  DALAM  MENCINTAI  AHLUL BAIT        :

 

Orang-orang Syi’ah sangat parsial dalam mencintai ahlul bait (keluarga Nabi SAW), hal ini tercermin pada hal-hal sebagai berikut ;

 

1.     Terhadap paman-paman Rasulullah SAW      :

Mereka habis2an menyatakan Abu Thalib itu muslim dengan menolak hadits2 yang shahih, tp menolak Abbas ra, bahkan menyatakan bahwa Abbas itu tidak ada, dan hanya rekayasa sejarah orang2 Abbasiyyah. Kenapa ? Sebab dalam fiqh (termasuk fiqh syi’ah) anak paman terhalang oleh paman dalam hak waris, artinya jika mereka mengakui keberadaan Abbas ra, maka klaim mereka bahwa Ali ra lah yang paling berhak akan kekhalifahan pasca Rasulullah SAW akan gugur, karena Abbas ra sebagai paman jelas lebih berhak (kelompok Syi’ah menganggap kekhalifahan pasca Nabi SAW menjadi hak Ali ra).

 

2.     Terhadap para isteri Rasulullah SAW  :

Istri nabi SAW mereka bagi dalam 2 kubu (padahal kenyataannya tidak demikian), yaitu kubu A’isyah, Hafshah, dll (yang menolak Ali ra) dengan kubu Ummu Salamah (pendukung Ali ra), pokoknya semua hal dalam agama Islam ini diterima dan ditolak bukan berdasarkan dalil yang shahih melainkan berdasar perasaan mereka pada Ali ra. Kemarahan mereka kepada Aisyah dan Hafshah, sebab beliau ra berdua adalah anak dari Abubakar ra dan Umar ra (yang dianggap oleh kelompok Syi’ah telah merampas kekhalifahan dari hak Ali ra). Merekapun ‘memelintir’ kisah perang Jamal menjadi citra persekongkolan Ummul Mu’minin Aisyah ra dan para sahabat ra menentang Ali ra, padahal perang tsb adalah disebabkan perbedaan ijtihad dalam melakukan qishash atas pembunuhan Utsman ra, kisah perang Jamal secara panjang lebar disebutkan dalam Sirah Ibnu Hisyam dan Thabaqat Ibnu Ishaq.

 

3.     Terhadap anak-anak Rasulullah SAW  :

Mereka memuji-muji Fathimah ra saja, tetapi pada putri Rasulullah SAW yang lain Ruqayyah ra dan Ummu Kultsum ra dianggap bukan putri Nabi SAW, hanya karena mereka dinikahkan oleh Nabi SAW dengan Utsman ra, sementara mereka membenci Utsman ra.

 

4.     Terhadap para menantu Rasulullah SAW                :

Mereka mencintai Ali ra, tapi membenci Utsman ra (padahal Utsman ra termasuk 10 org sahabat yang dijamin masuk syurga), begitu bencinya mereka pada Utsman ra sehingga istri Utsman ra (Ruqayyah ra dan Ummu Kultsum ra) dianggap mereka bukan anak asli Nabi SAW.

 

5.     Terhadap para cucu Rasulullah SAW   :

Yang dianggap cucu Nabi SAW oleh mereka hanyalah Hasan ra dan Husain ra, sedangkan Ummu Kultsum ra, putri Ali ra yang dinikahkan dengan Umar ra dianggap jin perempuan (padahal Imam Jalaluddin as Suyuthi dalam tarikhnya meriwayatkan kisah keutamaan Ummu Kultsum dengan suaminya, dalam sebuah hadits yang panjang).

Demikian pula mereka menafikan Umamah ra (anak Zainab ra dengan pernikahannya dengan Abul Ash ra), padahal Umamah ra ini sangat dicintai Nabi SAW, sampai2 saat beliau shalat pernah sambil menggendong Umamah ra (oleh kelompok syi’ah hadits tsb diganti dengan Husein ra), bahkan saat Fathimah ra sakit menjelang wafatnya ia meminta Ali ra untuk menikahi Umamah ra.

 

6.     Terhadap Para Mertua Nabi SAW      :

Mereka tidak mengakui kekhalifahan Abubakar ra dan Umar ra, karena mereka menganggap keduanya sebagai merebut hak Ali ra. Padahal keduanya ra adalah mertua Rasulullah SAW.

 

Dari pemaparan di atas, jelas bahwa jika kita menerima faham Islam versi Syi’ah, maka berarti kita terpaksa memandang bahwa Rasulullah SAW telah gagal dalam menyampaikan Islam, karena jangankan mendidik orang lain, keluarga terdekat beliau SAW sendiripun telah menyimpang dari Islam, maka bagaimanakah Islam ini akan sampai kepada kita sekarang?!

 

JENIS-JENIS  ALIRAN  SYI’AH  DALAM  MEMANDANG  ALI  RA :

 

1.     Ekstrim Mencintai Ali ra        :  Merupakan mayoritas dari syi’ah, yang sangat mengkultuskan Ali ra, dan mengkafirkan Abubakar ra dan Umar ra, kelompok ini berawal dari ajaran Abdullah bin Saba’ (seorg Yahudi yang pura2 masuk Islam), alirannya disebut Saba’iyyah, termasuk kelompok ini adalah Khomeini yang dalam bukunya yang menggemparkan (Kasyful Asrar) menulis doa untk melaknat Abubakar ra dan Umar ra (doa shanamai/berhala Quraisy). Kelompok syi’ah mati2an mem-fiktif-kan Ibnu Saba’ ini dan menyatakan hadits tentang Abdullah bin Saba’ ini hanya melalui jalur Abu Mihnah saja, padahal juga terdapat dalam al-Musnad oleh Imam Ahmad, Ta’zhim wa Tahdzib oleh Ibnu Hajar, dll. Ibnu Saba’ ini lalu dibuang oleh Ali ra ke Madain karena kesesatan ajarannya.

 

2.     Ekstrim Mengkafirkan Ali ra   : Tokohnya adalah Ibnu Kamil, kelompok ini mengkafirkan Ali ra karena menganggapnya tidak serius menjelaskan masalah Imamah pada ummat sehingga membuat umat Islam berpecah-belah (Imamah adalah ajaran Syi’ah yang menyatakan bahwa sepeninggal Rasulullah SAW hak atas kekhalifahan diberikan kepada 12 Imam Syi’ah yang merupakan keturunan Ali ra).

 

3.     Moderat : Mereka adalah Syi’ah Zaidiyyah yang menganggap bahwa Ali ra adalah sahabat yang paling utama dan paling berhak thd kekhalifahan setelah Nabi SAW, tetapi mereka tidak mengkafirkan para sahabat ra yang lain. Tapi inipun menurut ahlus sunnah wal jama’ah merupakan ijtihad yang kurang tepat, yang benar bahwa urutan keutamaan dan kemuliaan para sahabat ra menurut ahlus sunnah secara sepakat berurutan sesuai dengan urutan keempat khalifah ra yang dipilih oleh kaum muslimin.

 

Dengan mengikuti pemikiran syi’ah, maka sejarah para sahabat ra bukanlah merupakan sejarah keagungan dan kemuliaan ketinggian akhlaq serta mutiara indah dalam sejarah peradaban manusia hasil keberhasilan tarbiyyah Rasulullah SAW, melainkan tidak lebih dari sejarah perebutan kekuasaan yang berlumuran darah serta sejarah kezaliman manusia dan peperangan antar kelompok belaka.

 

 

MARAJI’       BUKU2 SESAT KARANGAN SYI’AH:

 

1.     Al-Habsyi, Husein.  1991.  SUNNAH-SYI’AH DALAM UKHUWWAH ISLAMIYYAH. Al-Kautsar. Malang.

 

2.     Musawi, Ali bin Hushain ar-Radhi,  1990.  NAHJUL BALAGHAH. YAPI.  Jakarta.

 

3.     Al-Musawi, S.,  1983.  DIALOG SUNNAH-SYI’AH.  Mizan. Bandung.

 

4.     Subhani, Ja’far,  1405.  ISHMAH.  Muassasah an-Nashri al-Islami.  Qum-Iran.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s