Menuju Persatuan Umat

Posted: 06/18/2007 in Uncategorized

Presiden PKS : Tifatul Sembiring
Banyak tragedi perselisihan atau perpecahan ditengah-tengah ummat yang berakibat fatal. Bibit-bibitnya sudah mulai terlihat sejak masa Khalifah Utsman bin Affan. Memang banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya perpecahan ummat. Namun godaan kemegahan dunia adalah faktor yang paling dominan.

PK-Sejahtera Online:

COCA COLA

Suatu ketika seorang ‘alim di negeri tercinta ini ditanya oleh seorang diplomat asing, “ Ustadz, bagaimana keadaan ummat Islam di Indonesia sekarang ini”. Sambil tersenyum, sang Ustadz menjawab, “Kalau dibuat pengandaian, ummat Islam itu seperti Coca Cola”. Terperanjatlah sang Diplomat, meskipun dia akrab sekali dengan merk minuman itu, karena kebetulan berasal dari negaranya. “Maksud Ustadz?”, tanyanya kemudian. “Ya, Coca Cola itu kalau dibiarkan saja, tutup botolnya dibuka baik-baik terus dituang ke dalam gelas yang sudah terisi es batu, enak kan diminum…, menghilangkan dahaga”. “Betul, betul”, sahut sang Diplomat penasaran. “Tapi”, lanjut Ustadz tadi, “jika sebelum dibuka, botol Coca Cola itu diaduk-aduk, dikocok-kocok, jadi berbusa kan? Bahkan setelah itu, tiba-tiba dibuka tutupnya, bisa bersifat eksplosif…”. “Begitulah ummat Islam ini. Bila mereka dibiarkan hidup dengan tenang, tidak diprovokasi, diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk belajar, beribadah, dan bekerja, maka mereka akan memberikan kontribusi terbaiknya bagi kemajuan peradaban dunia. Namun bila diadu domba, dipecah-belah dengan bermacam-macam bentuk provokasi, diaduk-aduk dengan berbagai isu…–dicap teroris, dicap fundamentalis, dicap ekstrimis–tak banyak kemajuan yang bisa dinikmati oleh dunia. Bahkan mungkin saja—suatu saat—berbagai provokasi itu akan menimbulkan eksplosi”. Demikianlah sang ‘Alim menuntaskan penjelasan beliau.

Obrolan singkat ini tentu punya makna, dan kita sudah punya banyak pengalaman terkait hal tersebut, khususnya sepanjang masa Orde Baru. Ummat Islam terlalu sering menjadi obyek provokasi bahkan berulang kali pula terjadi konflik di antara kaum muslimin sendiri. Korban yang berjatuhanpun tidaklah sedikit. Demikianlah saat itu ummat Islam menjadi lemah, dan tersia-sialah potensi besarnya yang seyogianya dapat membangun bangsa ini menjadi bangsa yang kuat dan disegani dunia.

Allah berfirman dalam Al-Qur’anul kariim: “Wa’tashimu bihablillahi jamii’a walaa tafarraquu…”. “Dan berpegang eratlah kamu sekalian pada tali Allah bersama-sama (berjamaah) dan janganlah kalian berpecah belah”. Allah menginginkan agar dalam tubuh ummat Islam ini mewujud persatuan, bukan perpecahan, bukan perseteruan dan permusuhan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. juga besabda: “Matsalul mu’miniina fii tawaddiihim wa tarahumihim kal jasadil waahid, idzastakaanu minhu ‘udhwun tadaa’alahu sairul jasad bil humma wassahri”. “Perumpamaan orang-orang yang beriman itu—dalam kecintaan dan kasih sayang di antara mereka—bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan sulit untuk tidur”.

Khalifah Ali bin Abi Thalib bahkan pernah mengatakan, “Alhaqqu bilaa nizhom, yaghlabuhul bathil bin nizhom”. “Kebenaran yang tidak terorganisir, akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”. Cukuplah hal ini menjadi peringatan bagi kita semua, betapa pentingnya persatuan dan penataan ummat ini. Kita tentu sudah kenyang dengan pengalaman segala bentuk upaya pemecah belahan terhadap ummat ini, bahkan sejarah telah mencatat masa-masa kelam terjadi perpecahan.

EFEK PERPECAHAN

Banyak tragedi perselisihan atau perpecahan ditengah-tengah ummat yang berakibat fatal. Bibit-bibitnya sudah mulai terlihat sejak masa Khalifah Utsman bin Affan. Dan jika kita ikuti tarikh Islam–baik masa-masa Khilafah Bani Umayyah maupun Khilafah Bani Abasyiyyah–perpecahan ini sedikit banyak memberikan pengaruh naik atau turunnya masa-masa kejayaan ummat di waktu itu.

Memang banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya perpecahan ummat. Namun godaan kemegahan dunia adalah faktor yang paling dominan. Berkaca dari peristiwa Perang Uhud, pesan-pesan Rasulullah SAW., maupun ayat Allah SWT seperti yang direkam dalam surat Ali Imran : 152 “…min ba’di maa araakum maa tuhibbun”(setelah diperlihatkan kepada kalian apa yang kalian inginkan), argumen yang paling kerap melatari terjadinya perpecahan ummat sepanjang sejarah adalah adanya sekelompok orang yang tergiur oleh megahnya kekuasaan dan kemewahan dunia. Na’udzubillahi min dzalik.

Pelajaran dari perang Uhud, awalnya kaum Muslimin menang. Kaum muslimin yang berada di sebelah kanan (dilihat dari arah Madinah) sedangkan kaum musyrikin Quraisy berada di sebelah kiri. Di lini pertahanan kaum muslimin ada sebuah bukit yang bernama Jabal Rumah yang nyaris berada diantara kedua pasukan itu. Rumah artinya panah . Rasulullah memerintahkan lima puluh orang pemanah bertahan di bukit itu. Beliau perintahkan mereka untuk tetap di tempat, baik pasukan Islam menang ataupun kalah. Hujan anak panah mereka memang dapat menahan laju pasukan berkuda Quraisy yang saat itu terdiri dari tiga batalyon. Dengan strategi tempur yang jitu tersebut, dua batalyon Quraisy pun hancur. Saat itulah kemenangan mulai tampak berpihak pada kaum muslimin.

Melihat Quraisy kocar kacir, ghanimah (harta rampasan) bertebaran, para pemanah di atas bukit bertengkar. Mayoritas berpendapat mereka harus turun, sebab perang telah usai. Sementara sepuluh orang pemanah teguh pada pendirian untuk tetap di atas bukit. Rupanya turunnya empat puluh pemanah ini diintai oleh satu batalyon Quraisy dibawah pimpinan Khalid bin Walid. Mereka menyerbu dengan memutari bukit dan membokong pasukan Islam dari belakang, setelah terlebih dahulu membunuh sepuluh pemanah yang masih bertahan di atas bukit. Keadaan menjadi kacau balau. Serangan mendadak itu bahkan mengakibatkan sesama pasukan muslimin saling berbunuhan, di akhir perang korban yang jatuh dari pihak muslimin cukup besar. Ada 70 orang yang syahid dimana sebagian besar mereka adalah para penghafal Al-Qur’an. Demikianlah sebuah pelajaran sejarah, betapa perselisihan, perpecahan, berakibat sangat tidak baik bagi ummat.

Pelajaran berikutnya tentang efek negatif perpecahan adalah apa yang terjadi di masa pemerintahan Khalifah ‘Utsman bin Affan. Saat itu Khalifah telah mulai udzur, sehingga secara de facto yang mengendalikan pemerintahan adalah Mu’awiyyah.

Suatu hari datanglah serombongan utusan dari penduduk Mesir. Mereka hendak menemui Khalifah, menyatakan berbagai ketidakpuasan pada pemerintah. Rombongan ini diterima oleh Ali bin Abi Thalib. Para utusan yang datang dengan penuh kekecewaan dan kemarahan ini ditenangkan oleh Ali, aspirasi mereka ditampung dan Ali berjanji untuk menyampaikannya pada pihak-pihak yang berwenang. Utusan itupun pulang kembali ke Mesir.

Di tengah jalan, seorang penunggang kuda melesat mendahului rombongan yang hendak kembali ke Mesir. Karena merasa curiga, dikejarlah sang penunggang kuda tadi, mereka tangkap lalu digeledah, dan ditemukanlah sebuah surat dengan cap kenabian—padahal saat itu stempel tersebut sudah lama hilang. Yang lebih mengejutkan lagi, surat yang ditujukan pada Gubernur Mesir itu berisi perintah agar rombongan penyampai aspirasi itu dibunuh semua setiba mereka di Mesir. Kontan hal ini menyulut amarah mereka yang sudah sempat mereda. Seketika rombongan itu kembali ke Madinah. Melihat gelagat yang tidak baik ini, Ali bin Abi Thalib memerintahkan Hasan dan Husein—putra beliau—untuk berjaga di depan pintu rumah Khalifah ‘Utsman. Namun para penyerang itu berhasil menyusup dan naik ke atap rumah, lalu masuk ke dalam rumah Utsman lewat lubang yang memang lazim ada di atap rumah arab ketika itu, lalu Utsman di bunuh.

Peristiwa ini didramatisir oleh Mu’awiyyah. Dengan mengibar-ngibarkan baju ‘Utsman yang bersimbah darah, Mu’awiyyah menyeru masyarakat untuk menuntut balas kematian Sang Khalifah.

Sementara itu, sebagian besar ummat Islam menuntut agar segera dipilih Khalifah, agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan. Muawiyyah tidak setuju. Beliau tetap menuntut pembalasan terhadap kematian ‘Utsman terlebih dahulu. Namun beberapa shahabat Rasulullah saw. sepakat untuk membai’at Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, diikuti pula sebagian besar kaum muslimin. Muawiyyah tetap tidak mau mengakui Ali sebagai Khalifah. Maka terjadilah perang antara pendukung Ali dan pendukung Mu’awiyyah yang di kenal sebagai perang Shiffin.

Ketika pihak Muawiyyah melihat tanda-tanda kekalahan, mereka mengajukan perundingan damai. Abu Musa Al Anshary—yang sudah cukup tua—mewakili pihak Ali dan Amr bin Ash—Gubernur Mesir—dari pihak Mu’awiyyah. Dalam perundingan tersebut pihak Ali dikelabui oleh ‘Amr bin Ash yang mengusulkan agar kedua belah pihak berhenti berperang. Tanpa ada kejelasan pengakuan dari pihak Mu’awiyyah terhadap kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Maka peperangan yang menelan delapan puluh ribu jiwa muslimin inipun berhenti.

Melihat hal ini kaum Khawarij marah. Lalu mereka merencanakan pembunuhan terhadap Ali, Muawiyyah, dan Amr bin Ash. Ali berhasil mereka bunuh ketika sedang mengimami shalat. Sementara Mu’awiyyah dan Amr bin Ash lolos karena tidak berada di tempat.

Demikianlah pelajaran pahit perpecahan. Terlalu besar harga yang harus dibayar. Begitu banyak kerugian yang harus ditanggung. Baik jatuhnya korban jiwa, maupun tersia-sianya potensi besar ummat Islam, yang sedianya dapat dioptimalisasi untuk membangun dunia yang lebih baik.

Kitapun melihat, paska keruntuhan Khilafah Islamiyyah, ummat Islam terpecah-pecah, menjadi kepingan-kepingan yang berserak di Timur maupun di Barat. Bahkan di dalam negeri pun kita lihat, muncul banyak organisasi Islam, yang tak jarang di adu domba antara satu dengan lainnya . Sungguh sebuah kenyataan yang memprihatinkan.

PENTINGNYA PERSATUAN

Rasulullah saw. selalu berusaha agar ummat ini bersatu utuh. Dalam penggalan sirah nabawiyyah, kita dapati kisah indah tentang bagaimana beliau mempersaudarakan antara kaum muslim muhajiriin dan anshar. Ta’akhu istilahnya. Beliau SAW saat mempersaudarakan setiap muhajirin dengan seorang anshar—muslim asli Madinah. Muhajirin datang ke Madinah dengan tidak memiliki apapun. Demi keimanan, mereka meninggalkan kampung halaman, rumah dan hartanya. Maka di Madinah, saudara-saudara mereka seiman—kaum Anshar—menyambut dengan penuh cinta. Tak mengherankanlah bila kemudian kita temukan kisah-kisah mengharukan bagaimana seorang Anshar membagi dua rumahnya dengan tabir, agar saudaranya muhajirin memiliki tempat berteduh. Atau membagi dua makanan mereka, bahkan harta benda mereka. Inilah hal monumental yang menandai persatuan ummat. Dengan kokoh bersatu, ummat Islam dapat mencapai banyak prestasi.

Hari ini, kita kerap bersedih melihat lontaran-lontaran dari sebagian tokoh yang cenderung tidak menuju kepada islah atau mendamaikan, melainkan bersemangat sekali melepaskan anak-anak panah fitnah yang sangat potensi menimbulkan perpecahan. Entah sampai kapan kepingan-kepingan ummat ini, yang telah pernah meraih kegemilangan sejarah dapat dipersatukan dan saling sinergi untuk kejayaan bersama.

Rasulullah SAW. telah menanamkan pokok dari pohon Islam ini, dimana akarnya kokoh menghunjam ke dalam bumi sementara pucuknya menjulang tinggi ke angkasa. Cabangnya-cabangnya telah ditumbuhkan oleh Khullafa Ar-rasyidin, Abu Bakar Shiddiq, Umar Ibnul Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Ranting-rantingnya juga telah di tumbuhkan oleh para tabi’in, tabi’ at tabiin, sedangkan daun-daunya telah ditumbuhkan dengan subur oleh milyunan ulama dan pejuang Islam sepanjang sejarah.

Maka saat ini kita perlu berhati-hati dengan adanya upaya-upaya pemecah belahan ummat. Baik dalam bentuk selebaran yang menghasut, atau sosialisasi pemikiran yang memfitnah fihak lain, yang sebetulnya berujung pada masalah dunia. Jabatan, kekuasaan, harta dunia. Sebagaimana firman Allah di surat Ali Imran di atas tadi. Ummat Islam menjadi berpecah belah, mengingkari perintah Rasul karena tergiur oleh kemilau dunia. Memfitnah saudara karena ambisi terhadap jabatan dan kekuasaan. Na’udzubillahi min dzalik. Hal-hal ini harus kita waspadai. Karena membunuh sesama muslim itu kafir, dan memfitnah saudara seiman adalah fasik.

Sudah waktunya untuk mengakhiri semua bentuk perpecahan di tubuh ummat, menghentikan silang sengketa. Sudah waktunya untuk tidak lagi mengembangkan sikap su’udzhon sesama elemen ummat. Setiap tokoh, pemimpin ummat, organisasi maupun kelompok harus berupaya meretas jalan untuk meraih persatuan, mengadakan silaturrahim satu sama lain tanpa menonjolkan gengsi dan kebanggaan masing-masing. Bukankah perintah Al-Qur’an berbunyi “adzillatin ‘alal mu’minin a’izzatin ‘alal kafirin”, lemah lembut sesama orang beriman, tegas terhadap orang kafir.

Hal ini bisa diawali dengan kesamaan dalam hal-hal yang bersifat prinsip. Tuhan kita sama, Allah SWT. Sholat kita sama. Puasa kita sama. Zakat kita sama. Haji kita sama. Persamaan prinsip ini tentu amat tidak sepadan untuk digusur oleh perbedaan-perbedaan kecil, apalagi yang bersifat duniawi.

Sudah saatnya kita untuk menguatkan dialog dari hati ke hati dalam forum-forum silaturrahim. Tidak terjebak kepada ulasan-ulasan media yang terkadang menciptakan salah paham dan tak jarang menyimpang jauh dari bentuk ungkapan sebenarnya. Bahkan selanjutnya dapat dibuat semacam kesepakatan-kesepakatan, dan akan lebih baik lagi jika bisa diwujudkan di lapangan, di tengah-tengah ummat. Agar ummat tidak bingung, tidak dipusingkan oleh lontaran-lontaran beberapa tokoh yang terkadang tidak tuntas dalam mengungkapkan suatu permasalahan.

ULAMA YANG SEJUK

Seringkali terngiang ucapan seorang ulama besar, bahwa keulamaan tidak bisa diwariskan, bahkan oleh anak-anak maupun cucu-cucu mereka sendiri. Bahwa setiap generasi harus berjuang mendidik dan menghasilkan ulama-ulama baru.

Kita sangat merindukan munculnya tokoh-tokoh ulama sekaliber KH.Ahmad Dahlan, Buya HAMKA, KH. Idham Khalid, KH. M. Natsir, yang senantiasa berbicara sejuk dan menentramkan ummat ini. Jauh dari kalimat-kalimat yang menghasut, provokatif. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menghujat sekalipun mereka hadapi dengan senyuman, dengan wajah yang penuh makna. Sebagian murid mereka, bahkan sudah cukup paham dengan makna senyuman itu.

Mereka tidak pernah membesar-besarkan perbedaan. Karena mereka memahami firman Allah: “Kabura maqtan ‘indallahi an taquulu maa laa taf’alun” (amat besar kebencian Allah, engkau mengucapkan apa yang tidak engkau kerjakan). Allah memerintahkan kepada kita persatuan, maka bagaimanakah seorang pemimpin ummat dapat dibenarkan pemimpin bila justru ucapan-ucapannya mengakibatkan perpecahan?.

Pesan Imam Syafi’i kiranya adalah hal yang perlu untuk kita renungkan bersama. Beliau mengatakan, andai hanya surat Al-Ashr saja yang diturunkan Allah SWT, rasanya itu sudah cukup jika benar-benar dipahami ummat ini. Karena jelas sekali bahwa dalam surat tersebut Allah SWT memerintahkan kita untuk bersatu padu. Bersatu dalam keimanan, membentuk ‘Ukhuwwah Imaniyah’. Bersatu dalam amal shalih, membentuk ‘Ukhuwwah Amaliyah’. Bersatu dengan saling menasihati tentang kebenaran, kesabaran dan kasih sayang . Yang semuanya ini disimpulkan dalam pemahaman Ukhuwwah Islamiyah, yaitu persatuan ummat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s