Bercerminlah Pada Cermin Sejati

Posted: 05/07/2007 in Tausyiah

Saudaraku,
bercermin merupakan bagian dari aktivitas kita sehari-hari. Ketika hendak berangkat kerja, bersiap-siap pergi ke kampus, atau sekedar menyisir rambut dan merapihkan jilbab, kita tidak lupa untuk menyempatkan diri bercermin. Bahkan tidak sedikit dari kita yang dengan setia membawa cermin kecil dalam setiap aktivitas yang kita jalankan, atau ada juga orang lain atau bahkan kita sendiri selalu menyempatkan diri bercermin pada kaca mobil yang di parkir, kaca rumah/bangunan lainnya.
Tapi sadarkah kita bahwa walaupun cermin memantulkan bayangan yang sesuai dengan apa yang ada, namun tetap saja ia bersifat subyektif. Karena apa ? Karena kesimpulan akhir yang terungkap dari bayangan di cermin tentu saja dikeluarkan oleh orang yang bercermin. Ketampanan, kecantikan, penampilan dan bayangan seindah apapun yang terpantul dari cermin tentang diri kita tetap saja merupakan sesuatu yang tidak obyektif. Lantas, siapakah cermin sejati itu ? Jawabnya adalah orang lain, dalam hal ini sahabat/saudara sejati kita, mengapa ?, karena tidak semua orang bisa menilai terhadap diri kita secara objektif, apalagi orang yang menilai diri kita ada maunya. Baik positif ataupun negatifSaudaraku yang berbahagia,


Inilah sebuah kenyataan yang harus kita terima bahwa orang lain ah (sahabat/saudara sejati) tempat terbaik untuk menilai diri kita. Penilaian yang diberikan mengenai diri kita akan lebih obyektif karena bagaimanapun orang lain (sahabat/saudara sejati) relatif terbebas dari nilai-nilai ego yang begitu kuat mencengkram diri kita. Namun keobyektifan yang dihasilkan dari hasil bercermin kepada orang lain bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh secara gratis. Obyektifitas yang dihasilkan ternyata harus dibayar mahal dengan kerelaan kita untuk menerima penilaian bukan hanya yang bervalensi (bernilai) positif namun juga yang bervalensi negatif. Dikatakan mahal, karena memang sangat jarang manusia yang mampu berlapang dada mengakui kekurangan (valensi negatif) dalam dirinya. Pada umumnya manusia akan merasa terhina ketika kelemahannya diberitahukan kepada dirinya. Dan akan merasa bahagia ketika hal yang sebaliknya dilakukan.
Saudaraku rahimakumullah,
Secara jujur harus kita katakan bahwa banyak dari kita yang belum mampu berlapang dada untuk menerima berita kelemahan mengenai diri kita yang biasanya diberikan dalam bentuk kritikan. Kita cenderung hanya bisa menerima bayangan yang memantulkan sosok diri kita yang sempurna tiada cacat sedikitpun. Berbeda dengan salah seorang Sahabat Nabi Umar Ibnu Khattab pernah mengatakan ”jika ada perbuatanku yang menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah maka tegurlah aku”, sebuah ungkapan luar biasa yang  terucap dari seorang Pemimpin Umat pada waktu itu, berbeda dengan pemimpin saat ini yang enggan, bahkan menutup diri untuk di kritik. Padahal bisa jadi inilah rahasia mengapa Allah menyuruh kita untuk saling bertaushiyah, wataawa shaoubilhaq wataawaa shaubilsobri, menyampaikan kritikan antara sesama kita dan bersamaan dengan itu berlapang dada untuk menerimanya. Dan memang seperti itulah seharusnya manusia yang baik. Bahkan kepiawaian seseorang dalam mengelola refleksi diri berupa kritik, akan mengantarkan orang tersebut menjadi pemimpin yang semakin hari semakin memiliki kualitas diri. Hal ini tanpa disadari terjadi karena pada hakikatnya kelapangan dada untuk menerima kritik adalah paralel dengan usaha melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas diri.
Oleh sebab itu saudaraku yang berbahagia,
Budaya bercermin pada cermin sejati inilah yang seharusnya kita kembangkan dalam diri kita. Karena selain sebagai sarana untuk melatih diri agar obyektif terhadap diri sendiri, juga sarana pengingat bahwa kita —hamba Allah— adalah makhluk yang lemah, banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Wallahu a’lam bishowab
 

 

 

 

Komentar
  1. Mr WordPress mengatakan:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. Liezmaya.web.id mengatakan:

    subhanallah, terima kasih🙂

  3. hisyam mengatakan:

    mohon ijij untuk menampilkan tulisan ini di blosg saya.
    terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s